Banner Utama

Hadapi Gejolak Global, Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi dari Sawit serta Singkong

Nasional
By Ariyani  —  On Mar 13, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong banyak negara memperkuat ketahanan domestik, termasuk Indonesia yang memilih fokus pada penguatan sektor pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.

Langkah ini diwujudkan melalui pengembangan komoditas strategis seperti minyak sawit dan singkong yang dinilai memiliki potensi besar untuk menopang ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengungkapkan produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kenaikan produksi tersebut menjadi kabar positif bagi industri sawit nasional.

“Produksi sawit kita tahun 2025 mengalami kenaikan. Produksi crude palm oil (CPO) mencapai sekitar 51 juta ton, sementara total produksi bersama palm kernel oil (PKO) sekitar 56 juta ton,” kata Eddy.

Data industri menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton atau meningkat sekitar 7,5 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton. Peningkatan produksi ini didorong oleh kondisi cuaca yang cukup baik serta harga sawit yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya sehingga mendorong petani lebih intensif merawat kebun.

Baca juga: Harga BBM Subsidi Tetap hingga Akhir 2026, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia juga tercatat tetap kuat di tengah tantangan global. Sepanjang 2025, volume ekspor mencapai 32,3 juta ton atau meningkat sekitar 9,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 29,5 juta ton. Harga sawit yang lebih kompetitif dibanding minyak nabati lainnya turut menjaga permintaan pasar internasional.

Meski demikian, konflik geopolitik global juga membawa dampak pada sektor logistik. Biaya pengiriman dan asuransi internasional dilaporkan mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 50 persen.

“Dengan kondisi global seperti sekarang ini kita bersyukur ekspor sawit masih berjalan. Walaupun terjadi kenaikan biaya logistik dan asuransi yang cukup besar, sekitar 50 persen,” jelas Eddy.

Menurutnya, meskipun terdapat indikasi penurunan permintaan baru akibat lonjakan biaya transportasi, kontrak ekspor yang telah berjalan tetap dipenuhi. Pengiriman minyak sawit Indonesia masih terus berlangsung ke berbagai negara tujuan utama seperti India dan China.

Di dalam negeri, konsumsi minyak sawit juga terus meningkat, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel. Pada 2025, konsumsi domestik tercatat mencapai sekitar 24,7 juta ton atau naik sekitar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Rekrutmen Akpol 2026 Dibuka, Polri Tegaskan Tanpa Jalur Khusus dan Diawasi Publik

Sementara itu, penggunaan sawit untuk biodiesel mencapai 12,7 juta ton atau meningkat sekitar 10,9 persen. Program biodiesel tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.

“Program swasembada energi, khususnya biodiesel, tentu harus diiringi dengan peningkatan produktivitas. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi sawit,” ujar Eddy.

Selain sawit, pemerintah juga mulai mengoptimalkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong yang diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol.

Pontensi Singkong Nasional

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia Arifin Lambaga menilai potensi singkong nasional sangat besar untuk mendukung ketahanan energi, terutama di tengah risiko gangguan pasokan energi global akibat konflik geopolitik.

Baca juga: Potong Anggaran Perjalanan Dinas Hingga 70%, Kemenag Pastikan Program Keagamaan Tetap Jalan

“Kita tahu sekarang risiko kekurangan energi cukup besar karena adanya konflik di Timur Tengah. Karena itu pemerintah ingin semua potensi yang bisa memproduksi energi dioptimalkan,” kata Arifin.

Saat ini produksi singkong nasional diperkirakan mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas dan penggunaan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan secara signifikan.

Arifin menjelaskan kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar diperkirakan mencapai 1,4 juta kiloliter per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar.

“Konversinya rata-rata satu liter bioetanol membutuhkan antara lima sampai tujuh kilogram singkong segar,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya kini tengah menyiapkan perencanaan produksi singkong sebagai bagian dari dukungan terhadap program energi nasional.

Baca juga: Stok Pupuk Aman, Produksi Pertanian Indonesia Tetap Stabil di Tengah Krisis Global

“Kami diminta membuat perencanaan produksi singkong yang kemudian akan dikonversi menjadi bioetanol,” ujarnya.

Dengan potensi besar pada sektor pangan dan energi nabati, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk menghadapi dinamika global. Ketika konflik geopolitik berpotensi mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, pemanfaatan sumber daya domestik menjadi kunci menjaga stabilitas nasional.

Di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks, penguatan ketahanan pangan dan energi berbasis komoditas strategis seperti sawit dan singkong menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tetap tumbuh dan mandiri.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: