ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program hilirisasi sektor pertanian sebagai strategi utama mendorong transformasi ekonomi nasional. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang kerja baru, terutama di wilayah pedesaan.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, selama ini Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan hasil pertanian yang sebagian besar dijual dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut dinilai membuat potensi keuntungan maksimal justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi.
“Selama ini kita kehilangan nilai tambah karena ekspor bahan baku. Ke depan, komoditas harus diolah di dalam negeri agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat,” jelasnya.
Program hilirisasi ini selaras dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan industrialisasi berbasis sumber daya alam sebagai pilar pembangunan. Sektor pertanian dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Konsep Pohon Industri
Baca juga: Harga BBM Subsidi Tetap hingga Akhir 2026, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Dalam implementasinya, Kementan mengusung konsep “pohon industri”, yakni pengembangan berbagai turunan produk dari satu komoditas. Misalnya, kelapa dapat diolah menjadi beragam produk seperti minyak, santan, hingga bahan baku industri, sementara kakao, kopi, dan singkong juga memiliki rantai produk yang luas.
Sebagai langkah konkret, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk pengembangan hilirisasi perkebunan pada periode 2025–2027. Program ini menyasar tujuh komoditas strategis, dengan target pengembangan mencapai 870 ribu hektare kebun rakyat.
Komoditas yang menjadi fokus antara lain kelapa, kakao, kopi, jambu mete, lada, dan pala. Selain memperkuat produksi bahan baku, program ini juga dirancang untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri.
Menurut Amran, hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga berperan dalam menggerakkan ekonomi desa. Pembangunan industri pengolahan di sentra produksi diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus menarik minat generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian modern.
“Dengan hilirisasi, desa tidak lagi hanya menjadi tempat produksi bahan mentah, tetapi juga pusat industri. Ini akan membuka peluang kerja dari pengolahan hingga ekspor,” jelasnya.
Baca juga: Rekrutmen Akpol 2026 Dibuka, Polri Tegaskan Tanpa Jalur Khusus dan Diawasi Publik
Ia menambahkan, Indonesia memiliki keunggulan bahan baku pertanian yang melimpah, namun belum sepenuhnya dioptimalkan menjadi produk bernilai tinggi. Melalui percepatan hilirisasi, pemerintah menargetkan perubahan posisi Indonesia dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen produk olahan yang kompetitif di pasar global.
Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk mengawal program ini secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.