ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Harga sejumlah jenis pakan ternak di tingkat produsen mulai menunjukkan tren penurunan pada periode Februari hingga awal Maret 2026. Kondisi ini dinilai dapat memberi peluang bagi peternak untuk menekan biaya produksi, mengingat pakan menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya usaha pada sektor peternakan unggas.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan penurunan harga pakan menjadi kabar positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional. Menurutnya, efisiensi biaya produksi akan sangat membantu peternak menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mendukung stabilitas harga ayam dan telur di tingkat konsumen.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan telur di tingkat konsumen,” kata Agung.
Data pemantauan Direktorat Pakan Kementerian Pertanian melalui Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) menunjukkan penurunan harga terjadi pada sejumlah jenis pakan yang digunakan dalam budidaya ayam pedaging maupun ayam petelur.
Baca juga: Harga BBM Subsidi Tetap hingga Akhir 2026, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Untuk pakan ayam pedaging, harga pakan fase starter (BR1) tercatat turun rata-rata sekitar Rp112 per kilogram dari 33 pabrik pakan, dengan harga produsen kini berada di kisaran Rp8.010 per kilogram. Pakan broiler fase pre-starter (BR0) juga mengalami penurunan rata-rata Rp82 per kilogram dari 30 pabrik pakan dengan harga sekitar Rp8.451 per kilogram.
Selain itu, pakan broiler fase finisher (BR2) tercatat turun rata-rata Rp89 per kilogram dari 31 pabrik pakan dengan harga produsen sekitar Rp7.967 per kilogram.
Penurunan harga juga terjadi pada pakan ayam petelur. Pakan layer masa produksi (P3) tercatat turun rata-rata Rp86 per kilogram dari 32 pabrik pakan dengan harga produsen sekitar Rp6.803 per kilogram. Sementara konsentrat layer masa produksi (KP3) turun rata-rata Rp74 per kilogram dari 14 pabrik pakan dengan harga sekitar Rp7.735 per kilogram.
Penyesuaian Harga Belum Merata
Meski demikian, Agung mencatat penyesuaian harga pakan saat ini belum dilakukan secara merata oleh seluruh industri pakan. Dari sekitar 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 33 pabrik atau sekitar 38 persen yang telah menurunkan harga produknya.
Baca juga: Rekrutmen Akpol 2026 Dibuka, Polri Tegaskan Tanpa Jalur Khusus dan Diawasi Publik
Menurutnya, pemerintah terus memantau perkembangan harga melalui sistem SPORA sekaligus menjalin komunikasi dengan industri pakan agar penyesuaian harga dapat dilakukan lebih luas.
“Kami berharap langkah ini dapat diikuti lebih banyak pabrik pakan sehingga manfaat efisiensi biaya produksi dapat dirasakan oleh peternak di berbagai daerah,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo menyatakan industri pakan terus melakukan berbagai upaya efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.
“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” ujar Desianto.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus menekan biaya produksi peternak.
Baca juga: Potong Anggaran Perjalanan Dinas Hingga 70%, Kemenag Pastikan Program Keagamaan Tetap Jalan
Ia menyebut Indonesia bahkan telah mulai mengekspor jagung pakan ke sejumlah negara, seperti Malaysia dan Filipina, dari beberapa daerah sentra produksi.
Penguatan produksi jagung nasional menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga pasokan bahan baku pakan, meningkatkan efisiensi usaha peternakan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.