ORBIT-NEWS.COM, PEMALANG – Banjir bandang yang menerjang lereng Gunung Slamet menjadi alarm serius bagi tata kelola lingkungan di wilayah hulu. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen turun langsung melihat lokasi terdampak terparah di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kawasan hutan lindung oleh pemerintah pusat.
Di sepanjang bantaran Kali Penakir, Wagub mendapati sejumlah rumah warga rusak berat akibat terjangan arus deras. Tumpukan kayu dan material alam yang hanyut ikut memperparah dampak kerusakan permukiman. Temuan lain yang menjadi perhatian adalah banyaknya pohon tercabut dengan kondisi akar masih segar, yang menunjukkan kuatnya daya rusak banjir bandang.
“Kalau melihat akarnya masih segar, itu artinya pohon tercabut murni karena dorongan arus yang sangat kuat,” ujar Taj Yasin di sela peninjauan.
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan tersebut pernah mengalami kebakaran hutan besar pada 2017. Material sisa kebakaran yang belum sepenuhnya pulih diduga turut terbawa aliran air saat hujan ekstrem, sehingga memperbesar volume dan daya rusak banjir.
Baca juga: Jalur Semarang–Purwodadi Putus Total, Polisi Terapkan Pengalihan Arus dan Siaga Penuh di Grobogan
Untuk memastikan penyebab secara menyeluruh, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana melakukan pemetaan lanjutan, termasuk pemantauan udara. Namun, kondisi cuaca yang masih mendung dan gelap membuat penggunaan drone serta pengawasan lapangan belum dapat dilakukan secara optimal.
“Dalam waktu dekat akan kita cek lebih detail, menunggu kondisi cuaca memungkinkan,” katanya.
Melihat skala dampak yang terjadi, Wagub yang akrab disapa Gus Yasin itu menilai perlu ada langkah strategis lintas wilayah. Ia mendorong lima kabupaten di sekitar kawasan hulu Gunung Slamet untuk menyatukan langkah dan bersama-sama mengajukan penguatan status serta pengelolaan hutan lindung kepada pemerintah pusat.
“Ini momentum yang tepat untuk menyatukan sikap. Lima kabupaten harus berbicara bersama dan mengajukan penguatan hutan lindung agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Sebagai informasi, banjir bandang melanda Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, akibat hujan ekstrem yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Jumat malam, (13/1/2026). Curah hujan tinggi menyebabkan Sungai Kali Soso, Kali Penakir, dan Sungai Gintung meluap, merendam permukiman serta merusak infrastruktur di sejumlah desa.
Baca juga: 532 Warga Brebes Terdampak Tanah Gerak, Pemprov Jateng Percepat Relokasi dan Pembangunan Huntara
Korban Jiwa
Data sementara mencatat 252 kepala keluarga atau 911 jiwa terdampak langsung. Pemerintah menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian, antara lain Kantor Kecamatan Pulosari yang menampung 148 jiwa, Gedung PC NU sebanyak 381 jiwa, serta SDN 02 Penakir dengan 30 pengungsi. Bencana ini juga menelan korban jiwa. Satu warga dilaporkan meninggal dunia di Desa Penakir, sementara dua warga Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, masih dalam pencarian. Selain itu, tujuh warga Desa Sima, Kecamatan Moga, mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis.
Kerusakan infrastruktur tercatat cukup parah. Jembatan Walim dan Jembatan Beser di Desa Gunungsari yang menghubungkan Dusun Silegok–Sipendil terputus. Jembatan Dusun Batursari di Sungai Comal, perbatasan Desa Penakir, juga putus, disusul rusaknya Jembatan Sungai Reas di Desa Jurangmangu serta hanyutnya jaringan perpipaan desa tersebut. Pada sektor perumahan, delapan unit rumah dilaporkan hanyut, 18 unit rusak berat, dan 24 unit rusak sedang.
Merespons kondisi darurat ini, Pemkab Pemalang menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung 24 Januari hingga 6 Februari 2026. Langkah penanganan yang dilakukan meliputi evakuasi warga, pendirian posko logistik dan dapur umum, layanan kesehatan keliling, serta pembersihan material dan asesmen kerusakan infrastruktur.
Dalam kunjungan tersebut, Taj Yasin juga menyalurkan bantuan senilai Rp217.602.326. Bantuan mencakup bahan pangan dan nonpangan, beras satu ton, kasur, tenda gulung, selimut, family kit, serta perlengkapan anak-anak untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas.