Banner Utama

Angpao Imlek: Dari Penolak Bala hingga Simbol Doa, Berapa Nominal yang Pantas?

Lifestyle
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Feb 11, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan nuansa merah, kebersamaan keluarga, serta tradisi berbagi angpao. Amplop merah berisi uang ini bukan sekadar hadiah, melainkan simbol doa, harapan, dan keberuntungan yang diwariskan lintas generasi dalam budaya Tionghoa.

Bagi anak-anak hingga anggota keluarga yang belum menikah, momen menerima angpao kerap menjadi bagian paling dinantikan dari rangkaian perayaan Imlek. Namun, di balik tradisi tersebut, tak jarang muncul pertanyaan klasik, berapa nominal angpao yang pantas diberikan?

Secara etimologis, angpao dikenal sebagai hóngbāo dalam bahasa Mandarin. Tradisi ini memiliki jejak sejarah panjang yang dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Qin (221–206 SM). Kala itu, angpao belum berbentuk amplop, melainkan koin berlubang yang diikat dengan benang merah dan dikenal sebagai yā suì qián.

Legenda menyebutkan bahwa koin tersebut dipercaya mampu menangkal gangguan makhluk jahat bernama Sui, yang konon suka mengganggu anak-anak pada malam pergantian tahun. Cahaya dari koin diyakini mampu mengusir Sui, sehingga anak-anak terhindar dari sakit dan mara bahaya. Sejak saat itulah, tradisi memberi uang sebagai penolak bala terus dilestarikan hingga kini.

Seiring perkembangan zaman, bentuk koin dan benang merah bertransformasi menjadi uang kertas yang disimpan dalam amplop merah. Warna merah sendiri melambangkan energi positif, perlindungan, serta keberuntungan dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Baca juga: Salah Pilih Sepatu Olahraga Bisa Picu Cedera, Ini Panduan Menentukan yang Tepat

Tak hanya saat Imlek, angpao juga kerap diberikan dalam berbagai momen penting lain, seperti kelahiran, pernikahan, kelulusan, ulang tahun, hingga pindah rumah. Nilai yang terkandung di dalamnya pun bukan semata jumlah uang, melainkan niat baik dan doa bagi penerimanya.

Menentukan Nominal Angpao: Fleksibel dan Kontekstual

Dalam praktiknya, tidak ada aturan baku terkait besaran angpao. Namun, beberapa pertimbangan umum kerap digunakan masyarakat untuk menentukan nominal, di antaranya usia penerima, hubungan kekeluargaan, serta kondisi finansial pemberi.

Berdasarkan usia, angpao untuk bayi dan balita biasanya bernilai simbolis, berkisar Rp25.000 hingga Rp50.000. Untuk anak-anak usia sekolah dasar, nominalnya dapat meningkat menjadi Rp50.000–Rp100.000. Sementara remaja hingga dewasa muda umumnya menerima angpao dengan nilai yang lebih besar, menyesuaikan kebutuhan dan tahap kehidupan mereka.

Hubungan keluarga juga memengaruhi besar kecilnya isi angpao. Anak kandung dan saudara dekat biasanya menerima nominal lebih besar dibanding kerabat jauh atau tamu. Adapun bagi orang tua dan sesepuh, angpao sering kali diberikan sebagai bentuk penghormatan dan bakti, meski secara tradisi tidak bersifat wajib.

Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat

Faktor terpenting tetaplah kemampuan finansial. Para ahli budaya menekankan bahwa pemberian angpao tidak seharusnya menjadi beban. Menyesuaikan nominal dengan kondisi keuangan jauh lebih utama dibanding memaksakan diri demi gengsi.

Pada akhirnya, angpao bukan tentang angka di dalam amplop merah, melainkan tentang makna berbagi berkah, mempererat hubungan keluarga, serta menyampaikan doa untuk masa depan yang lebih baik. Tradisi ini pun menjadi pengingat bahwa esensi Imlek terletak pada kebersamaan dan harapan baru, bukan semata materi.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: