ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Kenaikan berat badan kerap dikaitkan dengan pola makan berlebih. Padahal, para ahli menyebutkan bahwa bertambahnya bobot tubuh tidak semata-mata dipicu oleh asupan kalori, melainkan juga dipengaruhi berbagai faktor lain yang sering luput dari perhatian.
Secara umum, berat badan meningkat ketika jumlah kalori yang masuk ke tubuh lebih besar dibandingkan kalori yang dibakar melalui aktivitas. Namun dalam praktiknya, kondisi ini bisa diperparah oleh faktor hormonal, gaya hidup, hingga kondisi kesehatan tertentu.
Salah satu pemicu utama adalah stres. Saat seseorang mengalami tekanan, tubuh akan memproduksi hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan. Akibatnya, keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, terutama sebagai pelarian emosional, menjadi lebih besar.
Selain itu, kurang tidur juga berperan signifikan. Waktu istirahat yang tidak cukup dapat mengganggu keseimbangan hormon pengatur rasa lapar. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah merasa lapar, cenderung ngemil di malam hari, dan memilih makanan tidak sehat seperti gorengan dibandingkan makanan bergizi.
Faktor lain yang sering tidak disadari adalah konsumsi obat-obatan. Beberapa jenis obat, seperti antidepresan dan steroid, diketahui dapat memicu peningkatan berat badan. Tak hanya itu, obat untuk penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan kejiwaan juga berpotensi memberikan efek serupa. Bahkan, penggunaan kontrasepsi tertentu disebut-sebut turut berkontribusi, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Baca juga: Rutin Bergerak, Cara Sederhana Kendalikan Hipertensi Tanpa Obat
Kondisi Medis
Di sisi lain, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi berat badan. Misalnya, hipotiroidisme yang menyebabkan metabolisme tubuh melambat, sindrom Cushing akibat kelebihan hormon stres, serta sindrom ovarium polikistik (SOPK) yang berkaitan dengan gangguan hormon dan resistensi insulin. Kondisi-kondisi ini umumnya menyebabkan penumpukan lemak, terutama di area perut.
Perubahan gaya hidup modern turut memperburuk situasi. Kemudahan akses teknologi membuat banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu duduk di depan layar. Kurangnya aktivitas fisik, ditambah kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi kalori, menjadi kombinasi yang mempercepat kenaikan berat badan.
Menariknya, berhenti merokok juga dapat memicu peningkatan berat badan sementara. Hal ini terjadi karena nafsu makan meningkat setelah seseorang tidak lagi merokok. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa manfaat berhenti merokok jauh lebih besar dibandingkan risiko kenaikan berat badan.
Sementara itu, diet ekstrem yang bertujuan menurunkan berat badan secara cepat justru bisa menjadi bumerang. Pola diet seperti ini tidak melatih tubuh membakar kalori secara optimal dalam jangka panjang, sehingga berat badan cenderung kembali naik setelah diet dihentikan.
Baca juga: Kapan Penderita Hipertensi Perlu Minum Obat? Ini Penjelasan Lengkapnya
Untuk mencegah kenaikan berat badan yang tidak diinginkan, sejumlah langkah dapat dilakukan. Di antaranya menjaga pola tidur yang teratur, tetap aktif bergerak setiap hari, serta berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menghentikan atau mengganti obat tertentu. Selain itu, penting juga memahami bahwa kenaikan berat badan akibat obat terkadang hanya bersifat sementara karena penumpukan cairan.
Dengan memahami berbagai faktor tersebut, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengelola berat badan dan tidak hanya berfokus pada pola makan semata.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.