Banner Utama

Ramadan di Negeri Minoritas Muslim, Dosen Unsoed Ceritakan Pengalaman Puasa hingga 18 Jam di Polandia

Banyumas Raya Pendidikan
By Hermiana  —  On Mar 11, 2026
Caption Foto : Dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Institute of Biology and Earth Sciences UKEN, Polandia, Wilda Khafida.(Foto : Dok. Unsoed).

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO — Menjalani ibadah Ramadan di negara dengan mayoritas non-Muslim tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Pengalaman tersebut dirasakan oleh dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Institute of Biology and Earth Sciences UKEN, Polandia, Wilda Khafida.

Polandia merupakan negara di Eropa dengan populasi sekitar 38 juta jiwa. Namun, jumlah penduduk Muslim di negara tersebut sangat kecil, bahkan diperkirakan kurang dari satu persen dari total populasi. Meski demikian, Wilda melihat adanya perkembangan komunitas Muslim yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menceritakan bahwa ketika pertama kali menempuh studi magister di Polandia pada 2018, komunitas Muslimah yang ia ikuti hanya beranggotakan sekitar 50 orang. Namun ketika kembali ke negara tersebut pada Desember 2025 untuk melanjutkan pendidikan doktoral, jumlah anggota komunitas itu meningkat pesat hingga sekitar 400 orang.

Menurut Wilda, masyarakat Polandia juga menunjukkan ketertarikan untuk mengenal Islam lebih jauh. Tidak jarang ia mendapatkan pertanyaan dari warga setempat mengenai praktik keagamaan umat Muslim.

Baca juga: Kapolresta Banyumas Tegaskan Tak Ada Kriminalisasi dalam Pengungkapan Tambang Ilegal

“Mereka sering bertanya tentang apa itu salat, mengapa perempuan Muslim memakai jilbab, dan alasan berpuasa di bulan Ramadan. Biasanya saya mencoba menjelaskan menggunakan bahasa Polandia agar lebih mudah dipahami,” tuturnya.

Sebagai seorang ekolog yang kerap melakukan penelitian di alam terbuka, Wilda juga menghadapi keterbatasan fasilitas ibadah. Kondisi tersebut membuatnya harus beradaptasi dan memanfaatkan berbagai tempat untuk melaksanakan salat.

Ia mengaku terbiasa menjaga wudhu karena tidak selalu mudah menemukan tempat ibadah. Beberapa kali ia bahkan harus melaksanakan salat di lokasi yang tidak biasa.

“Saya pernah salat di perpustakaan, di hutan, di halaman kampus, bahkan di pinggir danau,” katanya.

Durasi Puasa Lebih Panjang

Baca juga: Jalur Rel Bumiayu Pulih Usai 14 Jam Penanganan, Perjalanan Kereta Kembali Normal

Tantangan lainnya adalah perbedaan musim yang memengaruhi durasi puasa. Saat musim dingin, suhu di Polandia dapat turun hingga minus 20 derajat Celsius. Kondisi ini membuat aktivitas di luar ruangan harus dilakukan dengan mengenakan pakaian berlapis.

Selain suhu ekstrem, durasi puasa juga bisa jauh lebih panjang dibandingkan di Indonesia. Wilda pernah merasakan berpuasa hingga sekitar 18 jam dalam sehari.

“Waktu Magrib bisa sekitar pukul 21.00, salat Isya pukul 23.00, sementara azan Subuh sudah sekitar pukul 02.00 dini hari,” ungkapnya.

Untuk menjaga stamina selama berpuasa dalam kondisi tersebut, Wilda memilih mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak agar energi tubuh tetap terjaga.

Terkait ketersediaan makanan halal, Wilda mengatakan bahwa beberapa kota besar di Polandia sudah menyediakan berbagai pilihan bagi umat Muslim. Di kota-kota seperti Warsawa, Krakow, dan Gdansk, daging bersertifikat halal cukup mudah ditemukan. Selain itu, terdapat banyak restoran Turki, Arab, Timur Tengah, hingga restoran vegan yang bisa menjadi alternatif pilihan.

Baca juga: Teknologi Jadi Jembatan Komunikasi, Telkom University Purwokerto Kembangkan Solusi bagi Penyandang Tunarungu

Pengalaman menjalani Ramadan di negeri empat musim itu ia bagikan dalam kajian Ramadan di Masjid Kampus Nurul Ulum Unsoed pada Minggu, 8 Maret 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Muslim yang ingin mengetahui pengalaman beribadah di negara dengan komunitas Muslim yang terbatas.

Secara historis, keberadaan Islam di Polandia sebenarnya telah berlangsung sejak abad ke-17. Salah satu komunitas Muslim tertua di negara tersebut adalah Muslim Tatar yang telah tinggal di wilayah Polandia sejak 1683.

Seiring waktu, perkembangan komunitas Muslim juga mendorong hadirnya berbagai fasilitas ibadah dan pusat kegiatan Islam di sejumlah kota besar, termasuk di Gdansk. Organisasi keagamaan seperti Liga Muslim Polandia turut berperan dalam mendukung aktivitas komunitas Muslim setempat.

Selama Ramadan, berbagai kegiatan keagamaan rutin diselenggarakan di Islamic Center, seperti pengajian, salat tarawih, hingga pembagian takjil yang bahkan sering diberikan kepada masyarakat non-Muslim.

Beberapa pusat kegiatan Islam di Polandia juga dilengkapi dengan fasilitas dapur bersama sehingga komunitas Muslim dapat memasak makanan untuk berbuka puasa. Selain itu, tersedia pula area bermain anak yang memungkinkan keluarga Muslim berkumpul dan menjalani aktivitas Ramadan dengan lebih nyaman.

Baca juga: Tujuh Hari Pencarian, Korban Tenggelam di Sungai Kreteg Kebumen Ditemukan Meninggal

Wilda sendiri pertama kali merasakan Ramadan di Polandia pada Juni 2018 saat masih menjalani studi magister. Kini, ia dapat menjalani Ramadan di negara tersebut bersama keluarga, karena sang suami juga sedang menempuh studi doktoral di Jagiellonian University, Polandia.

Baginya, pengalaman menjalani Ramadan di negeri dengan jumlah Muslim yang terbatas justru memberikan pelajaran berharga tentang adaptasi, toleransi, dan semangat menjaga ibadah di tengah berbagai keterbatasan.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: