Banner Utama

Komisi C DPRD Jateng Soroti Kredit Macet BPR BKK, NPL Kudus dan Jepara Tembus Dua Digit

Politik
By Vivin  —  On Jan 10, 2026
Caption Foto : Komisi C DPRD Jateng saat melakukan evaluasi di PT BPR BKK Kudus. (Foto : Dok. DPRD Jateng).

ORBIT-NEWS.COM, KUDUS – Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah menyoroti kondisi kesehatan keuangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sektor perbankan, khususnya terkait masih tingginya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loans (NPL). Dalam agenda monitoring dan evaluasi kinerja keuangan, sejumlah BPR BKK tercatat memiliki NPL di atas ambang ideal perbankan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah PT BPR BKK Kudus (Perseroda). Pada tahun 2025, rasio NPL bank milik daerah tersebut tercatat mencapai 12,89 persen. Angka ini dinilai cukup tinggi dan berpotensi memengaruhi kinerja serta keberlanjutan usaha jika tidak segera ditangani.

Direktur Utama BPR BKK Kudus, Noor Mastiko, menjelaskan bahwa tingginya NPL tidak lepas dari kebijakan internal perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, selama tiga tahun terakhir pihak manajemen belum melakukan penghapusan kredit macet, sehingga akumulasi kredit bermasalah masih tercatat dalam laporan keuangan.

“Belum ada penghapusan kredit selama tiga tahun terakhir, sehingga rasio NPL terlihat tinggi. Selain itu, pertumbuhan penyaluran kredit kami juga relatif terbatas karena lebih fokus pada pembiayaan skala kecil, bukan kredit bernilai besar,” ujar Noor saat memaparkan kinerja perusahaan di hadapan Komisi C DPRD Jateng. Ia hadir bersama Direktur Umum dan Kepatuhan BPR BKK Kudus, Kasmono.

Kondisi serupa juga terjadi di BPR BKK Jepara. Direktur Utama BPR BKK Jepara, Basri, mengungkapkan bahwa rasio NPL di institusinya pada 2025 bahkan mencapai sekitar 15 persen. Ia menilai, berakhirnya kebijakan relaksasi kredit dari pemerintah turut memengaruhi meningkatnya angka kredit bermasalah.

Baca juga: Jelang Ramadan, DPR Soroti Kesiapan Stok Pangan dan Peran Bulog Kendalikan Harga

“Ketika relaksasi kredit berakhir, posisi debitur kembali ke kondisi normal. Hal ini berdampak pada meningkatnya NPL,” jelas Basri. Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut tidak hanya dialami oleh BPR BKK Kudus dan Jepara, melainkan hampir merata di seluruh BPR BKK di Jawa Tengah, dengan rata-rata NPL sudah berada di kisaran dua digit.

Menanggapi paparan tersebut, Sekretaris Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Anton Lami Suhadi, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan manajemen BPR BKK dalam menyampaikan kondisi riil perusahaan. Meski demikian, ia menegaskan pentingnya langkah konkret untuk menekan rasio kredit macet agar tidak menjadi beban berkepanjangan.

“Kami mengapresiasi upaya dan kinerja BPR BKK, namun penanganan kredit macet harus menjadi prioritas. Jangan sampai NPL terus menumpuk dari tahun ke tahun karena bisa berdampak pada stabilitas keuangan perusahaan,” tegas Anton.

Komisi C DPRD Jateng berharap, ke depan BPR BKK dapat memperkuat manajemen risiko, meningkatkan kualitas penyaluran kredit, serta melakukan langkah strategis dalam penyelesaian kredit bermasalah guna menjaga kepercayaan publik dan mendukung perekonomian daerah.

Baca juga: Keluhan Opsen PKB Menguat, Ketua DPRD Banyumas Dorong Kajian Menyeluruh dan Transparan

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: