ORBIT-NEWS.COM, YOGYAKARTA – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali ditegaskan sebagai tulang punggung ekonomi nasional, terutama saat menghadapi krisis. Namun di tengah perubahan global yang semakin dinamis, pelaku UMKM kini dituntut untuk bertransformasi dengan memanfaatkan teknologi digital agar tetap kompetitif.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria mengatakan, ketangguhan UMKM telah teruji selama puluhan tahun dalam menghadapi berbagai guncangan ekonomi, mulai dari krisis finansial hingga pandemi.
“UMKM merupakan sektor yang terbukti mampu bertahan selama hampir 30 tahun dari berbagai krisis,” katanya dalam gelaran Entrepreneurs Leadership Conference 2026 di Universitas Gadjah Mada, Jumat (24/4/2026).
Namun, lanjutnya, tantangan saat ini tidak lagi sama. Ketidakpastian global yang dipengaruhi kondisi geopolitik membuat pelaku usaha harus lebih adaptif dan inovatif.
Baca juga:
Kewajiban Sertifikat Halal 2026: Semua Produk Wajib Halal Mulai 17 Oktober, Ini Daftar Kategorinya
“Situasi sekarang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian, termasuk dampak dari perkembangan geopolitik dunia,” jelasnya.
Strategi Gabungkan Kreativitas dengan Teknologi
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong strategi baru yang disebut creative-tech fusion, yakni menggabungkan kreativitas dengan teknologi digital sebagai kunci pertumbuhan bisnis.
Menurut Nezar, pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan produk, tetapi juga harus mampu membangun merek, mengelola konten, dan memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas pasar.
Data menunjukkan, dari sekitar 64 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 40 persen yang telah masuk ke ekosistem digital. Padahal, penetrasi internet nasional sudah melampaui 80 persen atau setara dengan lebih dari 231 juta pengguna.
Baca juga:
Kemenag Perkuat Data Santri dan Madrasah, Pastikan MBG Tepat Sasaran
Kondisi ini membuka peluang besar bagi UMKM untuk berkembang, namun sekaligus menjadi tantangan dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi.
“Kita tidak lagi berbicara soal konektivitas semata, tetapi meaningful connectivity, yaitu konektivitas yang benar-benar berdampak pada pertumbuhan bisnis,” tegasnya.
Ia menambahkan, kendala utama UMKM saat ini bukan sekadar akses internet, melainkan kemampuan dalam mengelola kehadiran digital, mulai dari strategi pemasaran hingga membangun audiens.
Sebagai solusi, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menghadirkan program UMKM Go Digital untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Program ini memberikan pelatihan mulai dari digital marketing hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan daya saing.
“Melalui program ini, pelaku UMKM bisa belajar strategi pemasaran digital hingga adopsi AI untuk mengembangkan bisnis secara lebih optimal,” pungkasnya.
Baca juga:
Kloter Perdana Haji 2026 Jateng Resmi Diberangkatkan dari Solo, 34 Ribu Lebih Jemaah Siap ke Tanah Suci