ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS — Berdiri sejak Tahun 1982, Museum Wayang Banyumas masih bertahan hingga kini, di tengah banyaknya pertumbuhan tempat wisata pendidikan lainnya. Tak hanya mengandalkan koleksi wayang saja, museum ini juga telah bertrasformasi dengan menampilkan pertunjukan wayang digital.
Pemandu di Museum Banyumas, Tri Jono Indra Winaryo mengatakan, nama museum adalah Sendang Mas, yang merupakan singkatan dari Seni Pedalangan Banyumas. Namun, masyarakat luas lebih mengenal sebagai Museum Wayang Banyumas.
Koleksi museum tidak hanya berupa jenis wayang yang mencerminkan lintasan sejarah, melainkan juga sejumlah alat bantu pertunjukkan wayang seperti blencong sebagai alat tata cahaya, gamelan sebagai alat musik wayang baku, calung sebagai alat musik gagrag Banyumasan hingga pakeliran atau layar.
Sedangkan untuk koleksi wayang, antara lain ada Wayang Gagrag Banyumasan Tempo Dulu dan Sekarang, Gagrag Yogyakarta, Wayang Krucil, Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, Wayang Suluh, Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, Wayang Beber dan lainnya. Terdapat pula Gamelan Slendro, Calung atau Angklung, Kaligrafi Huruf Jawa, Wayang Suket atau Adam Marifat, Banyumas Tempo dulu, dan masih banyak lagi.
“Untuk koleksi wayang kulit cukup banyak, ada sekitar 600-an wayang lebih, tidak semuanya dipajang, ada juga yang disimpan dalam kotak,” terang Indra dalam perbincangan bersama Orbit-News.com, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Mulai 1 Mei 2026, Jadwal KA di Wilayah Purwokerto Berubah, Ini Daftar Lengkap dan Rutenya
Selain wayang, terdapat juga benda Tosan Aji, Buku perpustakaan dan arkeologi yang memamerkan sejumlah peninggalan peralatan dari bahan baku batu dan kayu.
Tempat Siswa Belajar Budaya
Terletak di kompleks Pendopo Kecamatan Banyumas, Museum Sendang Mas tidak pernah sepi pengunjung. Hampir setiap minggu ada rombongan anak-anak sekolah yang datang.
Baca juga: Rotasi Besar di Polres Kebumen, Kompol Andre Resmi Jadi Wakapolres Baru
“Jika diprosentase, 75 persen pengunjung museum dari kalangan pendidikan, mulai dari siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Pengunjung dari kalangan umum kisaran 15 persen dan pengunjung dari turis mancanegara 10 persen,” kata Indra.
Anak-anak sekolah tidak hanya berwisata, tetapi banyak yang mengerjakan tugas di museum, terkait mata pelajaran seni budaya. Sejak ada animasi wayang digital, anak-anak lebih menikmati proses belajar sejarah pewayangan. Inovasi dari Museum Wayang Banyumas ini, memudahkan pengunjung untuk menikmati pertunjukan wayang, cukup dengan memindai barcode menggunakan kamera ponsel, pengunjung bisa menyaksikan animasi tiga dimensi dari koleksi yang dipajang.
Cerita-cerita seperti Babad Kali Serayu, Abiyasa Krama, dan Bawor Dadi Ratu dapat diakses dalam bentuk visual menarik, lengkap dengan tokoh-tokoh wayangnya.
Tingkat Kunjungan
Terpisah, Kepala UPT Purwomas, Dewi Kamawati Pertiwi, mengungkapkan bahwa Museum Wayang Banyumas masih memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata edukasi. Pada tahun 2025, jumlah kunjungan mencapai 11.132 orang dengan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp22.264.000.
Untuk tahun 2026, target PAD ditingkatkan menjadi Rp25 juta. Hingga minggu ketiga April, jumlah pengunjung telah mencapai 3.788 orang.
“Kami optimistis target PAD dapat tercapai. Inovasi digital yang kami hadirkan menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang mencari destinasi wisata edukasi di Banyumas, Museum Wayang Sendang Mas menawarkan pengalaman belajar budaya yang unik, interaktif, dan penuh nilai sejarah.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.