ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO — Pemerintah Kabupaten Banyumas terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting melalui sinergi program lintas sektor. Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, dalam kegiatan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pramusrenbang) Kabupaten Tematik Stunting Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Sipanji Purwokerto, Senin (9/3/2026).
Bupati Sadewo menegaskan, bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kesehatan anak, tetapi merupakan tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, stunting dapat berdampak pada kualitas generasi masa depan, mulai dari pertumbuhan fisik hingga perkembangan kognitif anak yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas dan daya saing daerah.
“Penanganan stunting tidak hanya menjadi isu kesehatan semata, tetapi merupakan persoalan pembangunan manusia yang berdampak jangka panjang terhadap produktivitas dan daya saing daerah,” tegasnya.
Sadewo menjelaskan bahwa upaya percepatan penurunan stunting di Banyumas dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu intervensi spesifik di sektor kesehatan serta intervensi sensitif yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satu fokus utama intervensi sensitif adalah peningkatan kualitas hunian masyarakat melalui program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), penyediaan akses air bersih, serta peningkatan sanitasi lingkungan.
“Dalam upaya menurunkan angka stunting melalui intervensi sensitif, Pemerintah Kabupaten Banyumas memfokuskan program pada perbaikan rumah tidak layak huni, penyediaan akses air bersih, serta peningkatan sanitasi masyarakat,” jelasnya.
Baca juga: Rutin Bergerak, Cara Sederhana Kendalikan Hipertensi Tanpa Obat
Program RTLH
Pada kesempatan tersebut, Sadewo juga mengungkapkan bahwa program batuan untuk Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Banyumas mampu menciptakan efisiensi anggaran hingga 7,8 persen dan bahkan mendapat apresiasi dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman. Efisiensi tersebut dicapai melalui kebijakan penyediaan minimal tiga toko material di setiap kecamatan, sehingga tercipta persaingan harga yang sehat dan transparan.
“Dampaknya, warga penerima bantuan dapat meningkatkan kualitas bangunan, seperti mengganti lantai plester menjadi keramik dengan anggaran yang sama,” ungkapnya.
Selain itu, keberhasilan program tersebut juga tidak lepas dari kuatnya budaya gotong royong masyarakat Banyumas. Banyak warga yang secara sukarela membantu pembangunan rumah melalui sumbangan tenaga maupun material.
Baca juga: Kapan Penderita Hipertensi Perlu Minum Obat? Ini Penjelasan Lengkapnya
“Budaya gotong royong masyarakat Banyumas sangat tinggi. Tetangga sering ikut membantu dengan menyumbang material atau tenaga, sehingga hasil bangunan menjadi jauh lebih baik dibandingkan di beberapa daerah lain,” tambahnya.
Sadewo juga menyebutkan bahwa percepatan penurunan stunting di Banyumas diperkuat dengan dukungan berbagai pihak, termasuk mitra pembangunan dari sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Kabupaten Banyumas tercatat menerima berbagai bantuan program bedah rumah, di antaranya pembangunan 500 unit rumah dari Yayasan Budha Tzu Chi serta bantuan 165 unit rumah dari Astra yang direncanakan akan bertambah sekitar 250 unit pada tahap berikutnya.
Selain itu, pendanaan program juga diperkuat melalui sinergi berbagai sumber anggaran, mulai dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN, hingga dukungan dari sektor swasta. Menurut Sadewo, forum Pramusrenbang Tematik Stunting juga menjadi ruang evaluasi penting bagi seluruh perangkat daerah dalam menilai efektivitas berbagai program yang telah dijalankan.
Ia menekankan pentingnya penggunaan data aktual di lapangan agar program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita harus mampu mengidentifikasi berbagai kendala yang ada, mulai dari akses layanan kesehatan, perubahan perilaku masyarakat, hingga efektivitas pendampingan keluarga berisiko stunting,” ujarnya.
Baca juga: Darurat TB di Indonesia: Setiap 4 Menit Satu Nyawa Melayang, Pemerintah Gaspol Eliminasi
Perkuat Konvergensi Penurunan Stunting
Sementara itu, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Banyumas, Triadi, dalam laporannya menyampaikan bahwa Pramusrenbang Tematik Stunting merupakan langkah strategis untuk memperkuat konvergensi program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banyumas.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian Pramusrenbang Tematik Stunting sebelumnya telah dilaksanakan di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyumas pada awal Februari 2026.
“Hasil pembahasan di tingkat kecamatan menjadi masukan penting untuk mengidentifikasi berbagai kendala serta tantangan yang dihadapi di lapangan,” jelas Triadi.
Baca juga: Kapolresta Banyumas Tegaskan Tak Ada Kriminalisasi dalam Pengungkapan Tambang Ilegal
Menurutnya, kegiatan ini memiliki beberapa tujuan utama, antara lain mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting, menyusun usulan program prioritas yang akan dibahas dalam Musrenbang RKP Kabupaten, serta memperkuat komitmen kolaborasi lintas sektor.
Selain itu, forum ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan perencanaan program serta penentuan lokasi prioritas yang nantinya akan diintegrasikan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kabupaten Banyumas Tahun 2027.
“Diharapkan berbagai intervensi penanganan stunting dapat terintegrasi secara optimal dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional dan provinsi,” terangnya.
Sebagai penutup kegiatan, dilakukan deklarasi komitmen bersama antara Pemerintah Kabupaten Banyumas, DPRD, pemerintah kecamatan, hingga pemerintah desa dan kelurahan dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan kepada desa, kecamatan, serta mitra pembangunan yang menunjukkan kinerja terbaik dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banyumas. Untuk kategori desa dengan penurunan jumlah stunting tertinggi, peringkat pertama diraih Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, disusul Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok di peringkat kedua, serta Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang di peringkat ketiga.
Baca juga: Jalur Rel Bumiayu Pulih Usai 14 Jam Penanganan, Perjalanan Kereta Kembali Normal
Sementara pada kategori kecamatan dengan penurunan jumlah stunting tertinggi, peringkat pertama diraih Kecamatan Cilongok, diikuti Kecamatan Purwojati pada peringkat kedua, serta Kecamatan Jatilawang di peringkat ketiga.
Adapun kategori prevalensi stunting terendah diraih oleh Kecamatan Purwojati. Sedangkan penghargaan kategori mitra pembangunan diberikan kepada Tanoto Foundation atas kontribusinya dalam mendukung pencegahan serta percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banyumas.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra pembangunan, Kabupaten Banyumas optimistis upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif sehingga mampu melahirkan generasi masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.