ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kemudahan dan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya. Namun di sisi lain, AI juga menghadirkan tantangan serius bagi wartawan dan media massa, terutama soal kualitas, etika, dan kredibilitas informasi.
Transformasi media dari arus utama (konvensional) ke digital sejatinya belum sepenuhnya tuntas. Kini, dunia jurnalistik justru kembali diuji oleh gelombang baru yaitu era disrupsi AI yang semakin agresif. Media sosial menjelma menjadi pesaing utama, sementara arus informasi mengalir tanpa saringan yang jelas.
Di tengah kecanggihan teknologi, wartawan dihadapkan pada ancaman distorsi informasi. AI memang mempermudah penyebaran berita, tetapi pada saat yang sama meningkatkan risiko hoaks, disinformasi, dan manipulasi fakta. Tanpa kewaspadaan dan literasi digital yang memadai, masyarakat akan semakin mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan.
Era big data turut menguji profesionalisme wartawan. Tak jarang, demi kecepatan, sebagian wartawan hanya mengandalkan mesin pencari, media sosial, atau bahkan hasil olahan AI, tanpa melakukan konfirmasi langsung kepada sumber utama. Praktik copy-paste menjadi jalan pintas yang menggerus nilai dasar jurnalistik.
Kemudahan akses informasi daring telah melahirkan fenomena “wartawan instan”, yang lebih mengejar kecepatan ketimbang akurasi. Padahal, meski tuntutan real time menjadi kebutuhan industri media hari ini, kecepatan tanpa verifikasi justru berujung pada krisis kepercayaan publik.
Baca juga: Ramadan Tidak Serempak: Bagaimana Mengedukasi Anak?
Tekanan untuk menghasilkan konten viral dan sensasional perlahan menggerus moral serta etika jurnalistik. Prinsip-prinsip mendasar seperti verifikasi fakta, keberimbangan, dan perlindungan privasi sumber sering kali terpinggirkan. Akibatnya, kredibilitas media pun kerap dipertanyakan.
Fenomena “sajikan dulu, viral kemudian, dan hak jawab belakangan” menjadi penyakit serius di era post-truth. Pola ini tidak hanya merusak nurani wartawan, tetapi juga mengaburkan peran pers sebagai penjernih informasi di tengah banjir hoaks dan propaganda.
Perang informasi yang terjadi hari ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kesalahan, kekeliruan, bahkan kebohongan terus diulang hingga dipersepsikan sebagai kebenaran. Konten buatan AI yang tidak jelas sumbernya semakin memperparah situasi dan mengancam kepercayaan publik terhadap media massa.
Menghadapi kondisi ini, wartawan dituntut untuk meningkatkan literasi digital dan memperkuat komitmen pada etika jurnalistik. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperdalam liputan dan memperkaya analisis, bukan menggantikan kerja jurnalistik itu sendiri.
Industri media pun mau tidak mau harus beradaptasi agar tetap bertahan. Model bisnis media perlu disesuaikan dengan karakter masyarakat digital yang dinamis. Tentu, hal ini membutuhkan investasi besar, baik dalam pengembangan sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana.
Baca juga: Broken Strings: Alarm Bahaya bagi Perlindungan Anak
Wartawan dan media massa harus berani menyikapi tantangan ini secara beradab. Wartawan perlu memahami teknologi AI secara kritis agar tidak menjadi korban, melainkan pengendali teknologi tersebut untuk meningkatkan kualitas jurnalistik.
Prinsip paling mendasar yang tidak boleh ditinggalkan adalah verifikasi fakta. Meski prinsip ini sudah lama dikenal, kenyataannya tidak semua wartawan menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Padahal, di tengah banjir informasi palsu, verifikasi adalah benteng terakhir kredibilitas pers.
Wartawan harus bersikap layaknya ilmuwan, teliti, kritis, dan mampu mempertanggungjawabkan validitas data. Memahami konteks persoalan secara komprehensif menjadi keharusan agar berita tidak sekadar cepat, tetapi juga bermakna.
Komitmen pada kode etik jurnalistik, objektivitas, akurasi, dan perlindungan sumber, harus terus ditumbuhkan. Wartawan dan media massa memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Media massa juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya informasi yang akurat serta cara mengenali berita palsu. Karena itu, kolaborasi dengan organisasi pemeriksa fakta dan komunitas jurnalistik menjadi langkah strategis untuk menjaga kualitas pemberitaan.
Baca juga: Kritik, Komedi, dan Bullying: Pelajaran Kitab Akhlak Pesantren dari Kontroversi Pandji–Gibran
Dengan komitmen, kolaborasi, dan integritas, wartawan dan media massa masih dapat mempertahankan kepercayaan publik, bahkan di tengah derasnya arus kecerdasan buatan.
Penulis : Kepala Biro Suara Merdeka Banyumas, Ketua Seksi Organisasi dan Pendidikan PWI Banyumas, Agus Wahyudi.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.