Melalui program bertajuk Efisiensi Energi Terpadu, UMP tidak sekadar mengatur penggunaan energi, tetapi juga mengubah pola aktivitas civitas akademika agar lebih ramah lingkungan. Sejumlah langkah strategis langsung dijalankan, mulai dari penerapan sistem kerja lima hari hingga penguatan konsep mobilitas rendah emisi di area kampus.
Kampus mendorong mahasiswa dan staf beralih ke transportasi ramah lingkungan seperti bersepeda dan berjalan kaki. Selain itu, aktivitas perkuliahan dan rapat kini banyak dilakukan secara hybrid guna mengurangi perjalanan fisik yang berdampak pada konsumsi energi.
Di sisi lain, efisiensi listrik juga menjadi fokus utama. Penggunaan pendingin ruangan diatur pada suhu ideal 24–26 derajat Celsius, sementara sistem administrasi berbasis digital terus diperluas untuk menekan penggunaan kertas.
Baca juga:
Curug Bayan Jadi Primadona Wisata Alam, Ini Alasan Wajib Masuk Daftar Liburan
Rektor UMP, Jebul Suroso, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari transformasi besar kampus dalam menjawab tantangan lingkungan global.
“Ini bukan sekadar program penghematan energi, tetapi langkah strategis membangun budaya kampus yang peduli lingkungan dan berorientasi masa depan,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen kampus.
“Perubahan tidak akan terjadi tanpa partisipasi bersama. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar penggunaan energi bisa lebih bijak dan berkelanjutan,” tambahnya.
Kampanye Hemat Energi
Baca juga:
Stok Pupuk Aman, Petani di Mernek Nikmati Lonjakan Hasil Panen