ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan komitmennya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan seimbang bagi peserta didik. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Kebijakan tersebut hadir sebagai respons atas meningkatnya penggunaan gawai di kalangan anak yang dinilai berpotensi mengganggu proses belajar dan perkembangan karakter. Pemerintah pun mengambil langkah dengan mendorong pembatasan akses terhadap platform digital yang berisiko bagi anak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan menjadi distraksi utama. Ia menekankan pentingnya peran guru dalam mengawal pemanfaatan teknologi di lingkungan sekolah.
“Kebijakan penundaan akses anak pada platform digital berisiko merupakan langkah penting untuk memastikan teknologi tetap menjadi alat pendukung pendidikan,” kata Mu’ti.
Baca juga:
Teknologi Jadi Jembatan Komunikasi, Telkom University Purwokerto Kembangkan Solusi bagi Penyandang Tunarungu
Di sisi lain, Kemendikdasmen memastikan bahwa program literasi digital tetap berjalan secara beriringan. Proses pembelajaran berbasis teknologi tidak dihentikan, melainkan tetap dilaksanakan dengan pendampingan guru agar siswa mampu menggunakan teknologi secara bijak.
Perbanyak Aktivitas Fisik dan Interaksi Sosial
Selain penguatan literasi digital, sekolah juga didorong untuk memperbanyak aktivitas fisik dan interaksi sosial di lingkungan pendidikan. Upaya ini dilakukan untuk menyeimbangkan penggunaan gawai sekaligus membentuk karakter siswa secara optimal.
Penguatan karakter tersebut diwujudkan melalui implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) serta penerapan konsep Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break (3S). Program ini diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga tangguh secara mental dan sosial.
“Teknologi adalah alat, tetapi karakter adalah kemudi. Tugas kita bersama memastikan anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara digital dan kuat secara karakter,” tutup Mu’ti.
Baca juga:
Beasiswa Bank Indonesia 2026 Dibuka di UIN Saizu: Bantuan Rp1 Juta per Bulan, Peluang Emas Cetak Generasi Melek Keuangan