ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, terus menunjukkan geliat transformasi ekonomi berbasis potensi lokal. Dikenal sebagai “Desa Seribu Mata Air”, Pancasan kini tak hanya mengandalkan kekayaan alamnya sebagai sumber kehidupan, tetapi juga mengembangkannya menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan melalui sektor pariwisata dan usaha produktif masyarakat.
Terletak di antara Sungai Tajum dan Sungai Datar, desa ini memiliki puluhan mata air jernih yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih, pertanian, hingga usaha perikanan. Lanskap persawahan hijau yang asri turut memperkuat daya tarik alam Pancasan sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan.
Keunggulan lokasi yang dilintasi jalan nasional menjadi nilai tambah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Pemerintah desa bersama masyarakat berhasil mengelola potensi air menjadi berbagai peluang usaha yang berkelanjutan, mulai dari pertanian, perikanan, hingga wisata air.
Salah satu ikon utama desa ini adalah Kolam Renang Tirta Alami, yang memiliki nilai historis sejak masa kolonial Belanda. Kepala Desa Pancasan, Sukirno, menjelaskan bahwa kolam tersebut awalnya merupakan empang sederhana yang digunakan untuk berendam, sebelum berkembang menjadi fasilitas wisata yang dikelola secara profesional.
Saat ini, Tirta Alami memiliki tiga kolam utama, yakni kolam dewasa dengan kedalaman 1 hingga 3 meter serta dua kolam anak. Selain menjadi tempat rekreasi keluarga, lokasi ini juga dimanfaatkan sebagai pusat latihan atlet renang di Banyumas.
Baca juga: Kapolresta Banyumas Tegaskan Tak Ada Kriminalisasi dalam Pengungkapan Tambang Ilegal
“Tidak hanya untuk wisata, kolam ini juga dimanfaatkan untuk latihan atlet renang lokal,” tutur Sukirno mengawali perbincangan dengan Orbit-News.com, Sabtu (28/3/2026).
Menggerakkan Ekonomi Desa
Pengelolaan Kolam Renang Tirta Alami melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) terbukti mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes), dengan rata-rata mencapai Rp150 juta per tahun.
Dampak ekonomi juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Aktivitas wisata mendorong tumbuhnya usaha mikro seperti kuliner tradisional, di antaranya kupat dan bakwan yang menjadi favorit pengunjung. Selain itu, sektor jasa seperti parkir juga dikelola secara tertib dan memberikan tambahan penghasilan bagi warga.
“Banyak masyarakat yang juga mendapatkan sumber penghasilan dari kolam renang ini, mereka berjualan makanan, yang paling terkenal adalah kupat dan bakwan, karena sehabis berenang biasanya orang menjadi lapar. Termasuk juga parkir di area ini, sangat banyak dan dikelola dengan baik oleh BUMDes,” terangnya.
Baca juga: Jalur Rel Bumiayu Pulih Usai 14 Jam Penanganan, Perjalanan Kereta Kembali Normal
Selian Kolam Renang Tirta Alami, Pancasan yang sedang bersiap menuju desa wisata ini juga memiki lahan yang disewakan kepada pihak ketiga dan dibuat tempat wisata air Dream Land. Persewaan ini sudah berlangsung sejak Tahun 2013 dan sesuai perjanjian sewa akan habis di Tahun 2032. Harga sewa per tahun mencapai Rp115 juta.
“Perjanjian sewa ini kita perbaharui per 5 tahun, sehingga ada penyesuaian tarif sewa,” jelas Kades.
Perikanan dan UMKM Ikut Tumbuh
Melimpahnya sumber air dimanfaatkan warga untuk budidaya ikan air tawar seperti nila, gurame, mujair, dan bawal. Produk perikanan dari Pancasan telah dikenal luas dan menjadi pemasok bagi pasar lokal hingga pelaku usaha kuliner di Banyumas.
Tidak hanya dijual dalam bentuk segar, hasil perikanan juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah oleh pelaku UMKM. Pemerintah desa berperan aktif dalam melakukan pembinaan agar produk-produk tersebut mampu bersaing di pasar.
Selain sektor air, Desa Pancasan juga dikenal sebagai sentra industri genteng yang telah menembus pasar hingga Jawa Barat dan Jawa Timur. Industri ini menjadi salah satu pilar ekonomi desa yang mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Industri genteng menjadi salah satu penggerak ekonomi dan membuka banyak lapangan kerja bagi warga,” kata Sukirno.
Baca juga: Kolaborasi Besar Digencarkan, Jawa Tengah Rancang Penanganan Menyeluruh Banjir Demak
Menuju Desa Wisata Berkelanjutan
Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) terus mendorong Pancasan untuk menjadi desa wisata resmi. Kabid Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Bahrudin memaparkan, Pancasan telah memiliki fondasi kuat karena aktivitas wisatanya sudah berjalan secara alami dan berkelanjutan.
Pengajuan Pancasan menjadi desa wisata seiring dengan program Trilas bupati dan wakil bupati Banyumas, dimana pengembangan desa wisata harus melibatkan BUMDes. Dalam proses pengajuan menjadi desa wisata ini, Dinporabudpar melakukan pendampingan, antara lain dengan menghadirkan kalangan akademisi selama proses penilaian.
“Desa Pancasan sudah lama dikenal sebagai desa dengan seribu mata air, konon ceritanya pada zaman perang kemerdekaan sudah ada tempat pemandian yang sekarang menjadi Kolam Renang Tirta Alami. Jadi Pancasan itu ponggoknya Banyumas, yang menguasai mata air, bahkan PDAM juga mengambil air dari sana,” jelasnya.
Dengan dukungan program pemerintah daerah serta keterlibatan aktif BUMDes dan masyarakat, Pancasan dinilai siap naik kelas menjadi desa wisata unggulan yang mampu bersaing di tingkat regional.
“Pancasan ini bisa disebut sebagai ‘Ponggok-nya Banyumas’, desa yang mampu mengelola sumber mata air secara produktif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Transformasi Desa Pancasan menjadi bukti bahwa potensi lokal yang dikelola secara tepat dapat menjadi sumber cuan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa Pancasan menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan potensi lokal secara optimal dapat mendorong kemandirian desa. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan mitra usaha, Pancasan tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga menciptakan destinasi wisata yang edukatif dan berkelanjutan.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.