Banner Utama

Muhammadiyah Resmi Gunakan Kalender Hijriah Global, Potensi Awal Ramadan Berbeda dengan Pemerintah

Nasional
By Ariyani  —  On Feb 15, 2026
Caption Foto : Muhammadiyah resmi meluncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). (Foto : Dok. Muhammadiyah).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah membuka babak baru dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia. Perubahan metode ini sekaligus memunculkan kemungkinan perbedaan awal Ramadan maupun hari raya dengan keputusan pemerintah yang masih menggunakan pendekatan kriteria imkanur rukyat.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa organisasinya telah meninggalkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang selama ini digunakan. Kini, Muhammadiyah mengadopsi KHGT yang berbasis parameter astronomis global.

Sebelumnya, metode wujudul hilal hanya mensyaratkan dua hal, yaitu telah terjadi ijtimak (konjungsi) dan posisi hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam, tanpa memperhitungkan ketinggian minimal. “Dulu, selama hilal sudah wujud meskipun hanya satu derajat di atas ufuk, itu sudah dianggap masuk bulan baru. Sekarang tidak lagi seperti itu,” ujar Maesyarah.

Dalam sistem baru, kriteria diperketat. KHGT mensyaratkan tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan–matahari) minimal 8 derajat. Apabila parameter tersebut terpenuhi di titik mana pun di dunia dan ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC, maka tanggal baru Hijriah langsung ditetapkan secara global. 

Potensi perbedaan dengan pemerintah tetap terbuka karena pendekatan yang digunakan berbeda secara mendasar. Pemerintah Indonesia memakai konsep wilayatul hukmi, penetapan berdasarkan wilayah hukum nasional, dengan kriteria imkanur rukyat yang mengombinasikan hisab dan verifikasi rukyat (pengamatan hilal).

Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban

Sementara itu, KHGT menganut prinsip matlak global, artinya satu keputusan berlaku untuk seluruh dunia. Karena itu, hasil akhirnya tidak selalu sama dengan penetapan nasional.

Maesyarah menambahkan bahwa meski ijtimak merupakan fenomena astronomis global, KHGT juga mempertimbangkan lokasi pertama munculnya fajar setelah konjungsi. Dalam beberapa kasus, wilayah seperti Selandia Baru bisa menjadi rujukan karena lebih dulu mengalami fajar setelah ijtimak terjadi.

Sebagai contoh, pada ijtimak Ramadan 1447 H, konjungsi terjadi sebelum waktu fajar di wilayah tersebut sehingga memenuhi syarat sebagai awal bulan dalam sistem kalender global.

Kepastian Jangka Panjang

Salah satu keunggulan metode hisab, menurut Maesyarah, adalah kepastian perhitungan yang dapat dilakukan jauh hari. Kalender bahkan bisa disusun puluhan tahun ke depan karena berbasis data astronomi yang presisi.

Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD

“Kalender 1450 Hijriah sudah bisa diakses sekarang,” ujarnya, menegaskan keunggulan perencanaan jangka panjang yang ditawarkan sistem ini.

Ia juga menyinggung praktik rukyat yang dinilai terkadang tidak sepenuhnya sejalan dengan hasil perhitungan astronomis. Dalam kasus sebelumnya, misalnya, terdapat laporan hilal terlihat di Aceh meski secara hitungan astronomi belum memenuhi kriteria visibilitas. Hal ini menunjukkan bahwa faktor non-teknis bisa saja memengaruhi keputusan.

Maesyarah menegaskan bahwa perubahan ke KHGT merupakan langkah evolutif. Menurutnya, pendekatan wujudul hilal bersifat lokal, sedangkan sistem global dinilai lebih relevan dengan kebutuhan umat Islam masa kini yang semakin terhubung lintas negara. 

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah lainnya, Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar, menyebut implementasi KHGT bukan sekadar kebijakan internal, melainkan proyek jangka panjang menuju integrasi kalender Islam dunia.

Setelah konsep tersebut ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, langkah berikutnya adalah membangun penerimaan global melalui dialog akademik dan jejaring internasional. Komunikasi dilakukan dengan pakar di sejumlah negara seperti Malaysia, Mesir, dan Suriah, serta melalui jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Sidang Isbat 1447 H Digelar Hari Ini, Pemerintah Tegaskan Mekanisme Ilmiah dan Syar’i Penetapan Awal Ramadan

Menurut Arwin, edukasi internal juga menjadi prioritas agar warga Muhammadiyah memahami konsep ini secara utuh sebelum diperluas ke tingkat global.

Ia menilai, secara demografis, perbedaan awal puasa di dunia saat ini relatif berimbang. Umat Islam yang memulai puasa pada tanggal 18 dan 19 misalnya, jumlahnya hampir sama akibat perbedaan metode penentuan awal bulan.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: