Banner Utama

Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD

Kesehatan Nasional
By Ariyani  —  On Feb 17, 2026
Caption Foto : Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah. (Foto : Dok. Kemenkes).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Di saat perubahan iklim memperluas wilayah sebaran demam berdarah dengue (DBD) dan meningkatkan risiko wabah di berbagai negara tropis, Indonesia justru mencatat penurunan signifikan angka kematian akibat penyakit tersebut. Capaian ini dinilai sebagai hasil konsistensi penguatan layanan kesehatan dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengendalian vektor.

Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian akibat DBD terus menurun dalam lima tahun terakhir. Jika pada 2021 CFR tercatat sebesar 0,9 persen, maka pada 2025 angkanya turun drastis menjadi 0,4 persen, terendah sepanjang periode tersebut. Penurunan ini terjadi meski jumlah kasus sempat melonjak pada 2024 akibat dampak fenomena El Niño yang mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, menyebut tren tersebut sebagai indikator meningkatnya kualitas tata laksana klinis dengue di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Meski dengue masih menyebar di komunitas, semakin sedikit pasien yang meninggal. Ini menunjukkan respons medis kita semakin efektif dan cepat,” ujarnya.

Menurutnya, perbaikan sistem deteksi dini, standar penanganan klinis yang semakin seragam, serta kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani kasus berat menjadi faktor kunci penurunan fatalitas. Selain itu, inovasi teknologi kesehatan dan pemanfaatan data epidemiologi turut memperkuat strategi respons pemerintah.

Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat

Peran Jumantik

Tak hanya mengandalkan sektor medis, pendekatan berbasis komunitas juga berperan besar. Program Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang melibatkan relawan di tingkat rumah tangga dinilai efektif menekan populasi nyamuk pembawa virus dengue sejak dari sumbernya. Para relawan secara rutin melakukan pemeriksaan jentik dan edukasi pencegahan dari pintu ke pintu.

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras tenaga kesehatan dan relawan di lapangan. Aksi komunitas seperti Jumantik terbukti menjadi benteng pertahanan pertama dalam memutus rantai penularan,” kata Asnawi.

Dengan capaian CFR yang kini berada di bawah target nasional 0,5 persen, pemerintah optimistis strategi pengendalian dengue berada di jalur yang tepat. Fokus ke depan adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor, meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, serta memperluas intervensi preventif di daerah rawan. Indonesia pun menegaskan komitmennya untuk mencapai target ambisius: nol kematian akibat dengue pada 2030.

“Menjaga fatalitas tetap rendah adalah langkah penting menuju tujuan utama kita, Nol Kematian Dengue 2030,” tegas Asnawi.

Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: