ORBIT-NEWS.COM, KEBUMEN - Di balik bentang perbukitan dan hamparan dataran rendah di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, berdiri sebuah desa yang perlahan menjelma menjadi magnet wisata berbasis budaya dan edukasi. Desa Wisata Grenggeng. Berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Kebumen, desa seluas 440 hektar ini menawarkan perpaduan lanskap alam, sejarah panjang, serta denyut ekonomi kreatif yang hidup dari tangan-tangan warganya.
Didirikan pada 16 Agustus 1924, Grenggeng kini semakin mudah dijangkau. Letaknya dekat jalur nasional serta Stasiun Karanganyar dan Gombong. Wisatawan dapat datang menggunakan kendaraan pribadi, transportasi umum, hingga becak lokal yang menjadi bagian dari pengalaman khas pedesaan.
Salah satu daya tarik utama adalah wisata edukasi anyaman pandan di Sekretariat Kelompok Tani Hutan Margot Rahayu, Dukuh Sutono. Galeri ini memang tidak buka setiap hari, namun pada pukul 10.00–16.00, suasana di dalamnya dipenuhi aroma pandan kering dan suara gesekan serat yang dianyam perlahan.
Di tempat ini, pengunjung bisa mengikuti pelatihan menganyam. Tidak sekadar melihat, wisatawan diajak memahami proses dari bahan mentah hingga menjadi produk siap pakai. Di akhir sesi, peserta membawa pulang satu suvenir hasil karya sendiri, sebuah pengalaman sederhana yang memberi kesan mendalam tentang nilai kerja tangan dan ketelatenan.
Di sisi lain desa, wisata religi menjadi magnet tersendiri. Makam Syekh Baribin terletak di Dukuh Setana Kunci, di kawasan puncak Gunung Grenggeng. Udara sejuk dan suasana tenang menjadi alasan banyak peziarah datang.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung roda dua dapat mendekat hingga area tangga terakhir, sedangkan kendaraan roda empat diparkir di halaman Masjid Baiturrahman. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki tangga sepanjang sekitar 100 meter dengan 99 anak tangga. Sebelum memasuki area makam, alas kaki harus dilepas sebagai bentuk penghormatan.
Secara historis, situs ini mulai dikenal luas setelah diidentifikasi dan dibuka oleh Patih Donoharjo IV dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat bersama Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa (1825–1830). Jejak sejarah inilah yang memperkuat nilai spiritual dan historis kawasan tersebut.
Panggung Budaya
Setiap malam Tahun Baru Islam, desa ini berubah menjadi panggung budaya melalui Grebeg Syura Syekh Baribin. Kirab tumpeng, doa bersama, santunan sosial, hingga pertunjukan seni tradisional seperti Robyong dan Abid menjadi suguhan utama.
Baca juga: Svarga Mina Padi Banyumas, Surga Wisata Edukasi di Kaki Gunung Slamet yang Hidupkan Ekonomi Desa
Kesenian Abid, yang menampilkan atraksi api secara aman dan terkontrol, menjadi simbol keberanian sekaligus representasi nilai kebenaran dalam tradisi lokal. Festival ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga ruang pelestarian identitas dan solidaritas sosial warga.
Bagi pencinta suasana tempo dulu, Pasar Gemit menawarkan pengalaman unik. Lapak-lapak tradisional, wadah makan klasik, serta busana pedagang bernuansa lawas menciptakan atmosfer yang berbeda dari pasar modern. Di sini, wisatawan dapat mencicipi jajanan tradisional, membeli tempe produksi rumahan, hingga melihat proses pembuatan perkakas dengan peralatan modern.
Tak jauh dari pusat desa, berdiri pula Taman Makam Pahlawan Sutan Negara serta tugu peringatan perjuangan kemerdekaan. Situs ini menjadi pengingat bahwa desa kecil pun memiliki kontribusi dalam perjalanan panjang Republik Indonesia.
Grenggeng bukan sekadar destinasi singgah. Ia menawarkan paket lengkap: edukasi, spiritualitas, budaya, hingga ekonomi kreatif dalam satu kawasan. Dengan akses yang semakin mudah dan potensi yang terus dikembangkan, desa ini perlahan menegaskan diri sebagai contoh bagaimana kearifan lokal dapat menjadi kekuatan wisata berkelanjutan di Kebumen.