ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Lonjakan harga bahan baku plastik akibat gangguan pasokan global mulai dirasakan pelaku industri di Jawa Tengah (Jateng). Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Jateng memastikan ketersediaan plastik tetap aman sekaligus memperketat pengawasan guna mencegah praktik penimbunan di pasaran.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia mengatakan, kenaikan harga dipicu oleh situasi geopolitik internasional yang berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku plastik.
Menurutnya, ketegangan di kawasan Selat Hormuz menyebabkan terganggunya distribusi naphta—komponen utama dalam produksi plastik—sehingga harga komoditas tersebut melonjak tajam di pasar global.
“Dari sisi hulu, pasokan terganggu sehingga harga naphta naik signifikan. Ini kemudian berdampak langsung pada kenaikan harga plastik di dalam negeri,” terangnya, Jumat (10/4/2026).
Baca juga:
Jalur KA Prupuk–Linggapura Kembali Normal Bertahap Usai Perbaikan Jembatan, 13 Perjalanan Sempat Terdampak
Ia mengungkapkan, harga naphta mengalami kenaikan drastis dari sekitar 600 dolar AS per ton menjadi 900 dolar AS per ton. Kenaikan tersebut memberi tekanan besar, terutama bagi pelaku usaha sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.
“Sektor pangan paling terdampak karena plastik digunakan sebagai kemasan primer. Sementara sektor lain seperti furnitur dan tekstil hanya menggunakannya sebagai kemasan tambahan,” tambahnya.
Pengawasan Distribusi Plastik
Mengantisipasi potensi dampak lanjutan, Pemprov Jawa Tengah telah menyiapkan langkah strategis. Dalam jangka pendek, pemerintah akan menggandeng aparat kepolisian untuk melakukan pengawasan distribusi plastik di lapangan, guna memastikan tidak ada praktik penimbunan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Selain itu, gerakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai kembali digencarkan melalui kampanye penggunaan tumbler, tas belanja ramah lingkungan, serta edukasi kepada masyarakat.
Baca juga:
Ancaman Struktur Jembatan, Daop 5 Batasi Operasi Kereta di Lintas Prupuk–Linggapura
Untuk solusi jangka menengah hingga panjang, Pemprov Jateng mulai mendorong transisi penggunaan bioplastik berbahan dasar alami, seperti pati singkong. Meski biaya produksinya masih relatif lebih tinggi dibanding plastik konvensional, langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari upaya menuju industri berkelanjutan.
July menargetkan substitusi penggunaan plastik konvensional dengan bioplastik dapat dimulai secara bertahap, yakni sekitar 20 hingga 30 persen, sebelum diterapkan lebih luas.
Tak hanya itu, transformasi menuju industri hijau juga menjadi fokus utama. Pemanfaatan energi terbarukan, seperti panel surya, disebut mampu menekan biaya produksi hingga 20 persen, sehingga dapat mengimbangi kenaikan harga bahan baku.
“Kami mendorong pelaku industri, baik skala kecil maupun besar, untuk mulai beralih ke green industry. Efisiensi energi bisa menjadi solusi untuk menekan biaya produksi,” jelasnya.
Masyarakat dan pelaku UMKM juga diimbau untuk mulai beradaptasi dengan penggunaan bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Pemprov menilai, situasi ini justru dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan menuju pola produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan.
Baca juga:
Bike to Work, Gubernur Ahmad Luthfi Gaungkan Revolusi Hemat Energi di Kalangan ASN
“Ini bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang untuk bertransformasi ke arah yang lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.