ORBIT-NEWS.COM, TANGERANG – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong transformasi besar dalam sistem pembinaan haji melalui digitalisasi, dengan target mencetak jemaah yang mandiri, memahami ibadah, dan mencapai haji mabrur.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Puji Raharjo, menegaskan, transformasi ini bukan sekadar perubahan prosedur, tetapi paradigma baru yang mengubah pembinaan haji dari seremonial menjadi berbasis kebutuhan individu dan didukung teknologi digital.
“Penyelenggaraan haji ke depan harus fokus pada kepuasan dan kemabruran jemaah, melalui pembinaan yang menyeluruh dari pra haji, pelaksanaan, hingga pasca haji,” terang Puji dalam Rakernas Konsolidasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Kelas I Tangerang, Kamis (9/4/2026).
“Pemanfaatan teknologi digital memungkinkan pendampingan jemaah lebih personal dan terintegrasi sepanjang siklus layanan,” tambahnya.
Tantangan Pembinaan Hingga Integrasi Layanan
Baca juga: WFH Setiap Jumat, Menag Sebut Sebagai Awal Transformasi Budaya Kerja ASN di Era Digital
Sejumlah tantangan masih ada, antara lain pembinaan yang belum sepenuhnya berbasis hasil, kualitas pembimbing ibadah yang belum merata, integrasi layanan pra hingga pasca haji yang belum optimal, serta pemanfaatan teknologi yang masih terbatas.
Untuk menjawab hal tersebut, Kemenhaj mengedepankan enam pilar sukses pembinaan haji digital, yaitu standarisasi nasional modul pembinaan haji, transformasi digital layanan dan pembinaan, penguatan peran pembimbing ibadah, pembinaan berbasis profil jemaah, integrasi pembinaan dengan layanan terbaik, serta penguatan pembinaan pasca haji.
“Kami ingin setiap jemaah merasakan manfaat pembinaan yang lebih personal dan berbasis digital, sehingga siap melaksanakan ibadah dengan mandiri dan penuh pemahaman,” ucap Puji.
Strategi implementasi jangka panjang meliputi penyusunan regulasi nasional, digitalisasi sistem pembinaan, kolaborasi pusat-daerah, serta integrasi data dan monitoring.
Sementara itu, sejumlah quick wins untuk musim haji 2026 antara lain penerapan modul manasik nasional terstandar, skema murur dan tanazul, tata kelola dam, peluncuran platform digital pembinaan dan pelaporan, serta pengembangan portofolio pembimbing ibadah.
Baca juga: Hari Pertama WFH, Kemensos Uji Budaya Kerja Baru Tanpa Ganggu Layanan Publik
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.