ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Namun, tidak semua penderita harus langsung mengonsumsi obat. Dalam banyak kasus, perubahan gaya hidup justru menjadi langkah awal yang dianjurkan sebelum terapi obat diberikan.
Secara medis, hipertensi dibagi menjadi dua jenis, yakni hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer terjadi tanpa penyebab yang pasti, sementara hipertensi sekunder dipicu oleh kondisi tertentu seperti gangguan ginjal, kelainan jantung bawaan, atau efek penggunaan obat-obatan tertentu.
Tidak Semua Hipertensi Butuh Obat
Dokter umumnya tidak langsung meresepkan obat jika tekanan darah masih dalam kategori awal. Pada kondisi tekanan darah sistolik 120–129 mmHg dan diastolik di bawah 89 mmHg, penanganan difokuskan pada perubahan gaya hidup sehat.
Langkah ini dinilai efektif untuk menstabilkan tekanan darah tanpa ketergantungan obat. Beberapa upaya yang dianjurkan antara lain rutin berolahraga seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang, mengurangi konsumsi garam dan lemak, berhenti merokok, serta menerapkan pola makan sehat seperti diet DASH.
Baca juga:
Rutin Bergerak, Cara Sederhana Kendalikan Hipertensi Tanpa Obat
Obat Diberikan Jika Kondisi Tidak Membaik
Penggunaan obat antihipertensi mulai dipertimbangkan ketika perubahan gaya hidup tidak menunjukkan hasil dalam waktu tertentu. Biasanya, dokter akan meresepkan obat jika tekanan darah tetap tinggi setelah tiga bulan menjalani pola hidup sehat.
Selain itu, terapi obat juga diperlukan pada kondisi tertentu, seperti hipertensi derajat 1 yang disertai penyakit jantung atau riwayat stroke, hipertensi derajat 2 dengan tekanan darah di atas 140/90 mmHg, hingga krisis hipertensi yang dapat membahayakan nyawa.
Terdapat berbagai jenis obat antihipertensi yang dapat digunakan, mulai dari ACE inhibitor, diuretik, hingga penghambat beta. Pemilihan obat dilakukan berdasarkan kondisi pasien, tingkat keparahan, serta respons tubuh terhadap pengobatan.
Bisa Dikonsumsi Seumur Hidup
Baca juga:
Darurat TB di Indonesia: Setiap 4 Menit Satu Nyawa Melayang, Pemerintah Gaspol Eliminasi
Penderita hipertensi umumnya perlu mengonsumsi obat dalam jangka panjang, bahkan seumur hidup. Meski demikian, dosis obat dapat disesuaikan atau dikurangi jika tekanan darah berhasil dikontrol dengan baik.
Dokter biasanya memulai terapi dengan satu jenis obat, namun pada kondisi tertentu bisa mengombinasikan dua hingga tiga jenis obat untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan.
Pentingnya Pemeriksaan Rutin
Bagi individu yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga atau penyakit penyerta seperti diabetes dan gangguan jantung, pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat dianjurkan, minimal satu kali dalam setahun.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat antihipertensi tanpa anjuran dokter. Pasalnya, setiap obat memiliki kecocokan yang berbeda pada tiap individu dan penggunaan yang tidak tepat justru dapat menimbulkan risiko kesehatan baru.
Baca juga:
Serat Jadi Kunci Hidup Sehat, Ini Manfaat Penting dan Sumber Terbaik yang Perlu Diketahui
Dengan penanganan yang tepat dan disiplin menjaga gaya hidup, hipertensi dapat dikendalikan sehingga risiko komplikasi serius bisa diminimalkan.