Banner Utama

Strategi Menjaga Ketangguhan Keluarga di Tengah Badai Ekonomi Global

Oleh : Thobib Al Asyhar
Opini
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Apr 05, 2026
Caption Foto : Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Dosen SPPB Universitas Indonesia, Thobib Al Asyhar. (Foto : Dok. Pribadi).

ORBIT-NEWS.COM - Saat ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik antara blok Amerika Serikat–Israel dengan Iran belum menunjukkan tanda mereda. Bahkan, eskalasinya nampak terus meningkat dan berdampak luas pada stabilitas global.

Salah satu dampak paling terasa adalah kenaikan harga minyak dunia. Ketika harga energi melonjak, efeknya menjalar ke mana-mana, dari biaya produksi, transportasi, hingga harga kebutuhan pokok. Dunia yang masih bergantung pada energi fosil tak punya banyak pilihan selain ikut terdampak.

Indonesia pun tidak luput dari situasi ini. Sejak bulan Ramadan hingga Lebaran lalu, masyarakat mulai merasakan kenaikan harga bahan pokok. Bagi keluarga kelas menengah ke bawah, tekanan ini terasa semakin berat. Tidak sedikit yang mulai menyusun strategi penghematan demi menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

Pemerintah telah merespons dengan berbagai kebijakan, seperti penghematan energi dan skema kerja dari rumah (WFH) setiap hari Jumat untuk mengurangi konsumsi BBM dan beban anggaran negara. Demikian juga penggunaan listrik di kantor-kantor pemerintah. Namun, di level paling mendasar, ketangguhan keluarga tetap menjadi kunci utama menghadapi badai ini.

Lalu, apa yang bisa dilakukan keluarga Indonesia agar tetap kuat, stabil, dan harmonis? Berikut panduan praktis yang bisa diterapkan.

Baca juga: Tradisi Mudik: Perjalanan Pulang Menebar Berkah, Menjemput Kenangan

Pertama, perketat gaya hidup hemat tanpa mengorbankan kebutuhan utama. Mulailah dari hal-hal sederhana, memilah kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang diinginkan harus dibeli. Fokus pada kebutuhan pokok, dan kurangi pengeluaran yang bersifat konsumtif. Apalagi kebutuhan tersier atau kemewahan yang tidak perlu.

Penghematan bisa dilakukan di banyak aspek, listrik, bahan bakar, hingga rekreasi. Prinsipnya sederhana, yang bisa dihemat, hematlah. Ini bukan tentang kekurangan, tapi tentang kebijaksanaan dalam mengelola rezeki yang dianugerahkan oleh Allah.

Kedua, bangun kesadaran bersama bahwa hidup itu biasa naik dan turun sebagaimana iman. Keluarga adalah tim. Semua anggota perlu memahami bahwa kehidupan tidak selalu stabil. Ada masa lapang, ada masa sempit. Di sinilah pentingnya komunikasi dan keteladanan. Orang tua perlu menunjukkan bahwa hidup sederhana bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan. Nilai ini akan menjadi bekal kuat bagi anak-anak dalam menghadapi masa depan.

Sumber Penghasilan Alternatif

Baca juga: Sebelum Ramadan Benar-Benar Pergi

Ketiga, kembangkan sumber penghasilan alternatif. Ketahanan ekonomi keluarga tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Kreativitas menjadi kunci. Manfaatkan lahan kosong untuk menanam kebutuhan harian seperti cabai, tomat, atau buah-buahan. Niatkan sambil praktik ekoteologi. Selain mengurangi pengeluaran, ini juga bisa menjadi peluang tambahan pemasukan.

Usaha rumahan kecil pun bisa menjadi solusi, dari kuliner sederhana hingga jasa berbasis keterampilan.

Keempat, perkuat solidaritas sosial. Di tengah kesulitan ekonomi, jangan justru menarik diri dari lingkungan. Sebaliknya, perkuat hubungan sosial. Solidaritas dengan tetangga, keluarga besar, dan masyarakat akan menjadi sumber kekuatan emosional. Dalam kebersamaan, beban terasa lebih ringan. Dalam kepedulian, harapan tetap terjaga.

Kelima, ini yang sangat penting, dekatkan diri kepada Allah SWT. Di atas segala ikhtiar, ada kekuatan spiritual yang tidak boleh dilupakan. Mendekat kepada Allah SWT adalah sumber ketenangan yang sejati. Perbanyak doa, sabar, dan tawakal. Yakinlah bahwa setiap ujian datang dengan hikmah dan jalan keluar. Mengeluh hanya melemahkan, sementara keyakinan akan menguatkan.

Badai ekonomi yang akan datang mungkin tidak bisa kita hentikan, tetapi kita bisa memperkuat “perahu” keluarga agar tetap kokoh menghadapinya. Pengalaman melewati krisis seperti pandemi COVID-19 telah membuktikan bahwa keluarga Indonesia memiliki daya tahan luar biasa. Dengan pengelolaan yang bijak, kebersamaan, kreativitas, solidaritas, dan kekuatan spiritual, keluarga tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat.

Baca juga: Filosofi Syukur

Pada akhirnya, ketangguhan keluarga bukan sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang menjaga cinta, harmoni, dan harapan. Dari sinilah akan lahir keluarga sakinah yang kokoh, bukan hanya di masa lapang, tetapi juga dalam badai kehidupan.

Penulis : Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Dosen SPPB Universitas Indonesia, Thobib Al Asyhar.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: