ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Liquid diet atau diet cair belakangan semakin populer sebagai metode cepat untuk menurunkan berat badan. Pola makan ini dilakukan dengan hanya mengonsumsi makanan atau minuman yang bertekstur cair maupun setengah cair, tanpa makanan padat sama sekali. Meski kerap dipilih untuk tujuan diet, sebenarnya metode ini lebih sering digunakan dalam dunia medis.
Secara medis, liquid diet umumnya direkomendasikan bagi pasien yang akan menjalani prosedur pemeriksaan tertentu atau dalam masa pemulihan setelah operasi. Tujuan utamanya adalah memberi waktu istirahat bagi sistem pencernaan sehingga tubuh lebih mudah menyerap nutrisi tanpa harus bekerja keras mencerna makanan padat.
Sesuai namanya, liquid diet membatasi asupan pada makanan cair seperti kaldu, jus tanpa ampas, yoghurt, smoothies, hingga puding. Dalam pola makan ini, seseorang biasanya hanya mengonsumsi sekitar 1.350–1.500 kalori per hari dengan sekitar 45 gram protein. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan kalori harian orang dewasa pada umumnya.
Karena asupan kalori yang lebih sedikit, diet cair memang dapat membantu menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa metode ini mampu menurunkan berat badan serta indeks massa tubuh (IMT). Bahkan, beberapa studi juga mencatat adanya penurunan tekanan darah sistolik, meski dampaknya tidak terlalu signifikan.
Baca juga: Rutin Bergerak, Cara Sederhana Kendalikan Hipertensi Tanpa Obat
Namun, penurunan berat badan tersebut umumnya tidak bertahan lama. Pengurangan kalori secara drastis dapat memperlambat metabolisme tubuh karena tubuh berusaha menghemat energi. Ketika seseorang kembali ke pola makan normal, berat badan berpotensi meningkat kembali dengan cepat.
Selain itu, liquid diet juga berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi. Karena tidak mengonsumsi makanan padat seperti biji-bijian, sayur, dan buah utuh, asupan serat, vitamin, serta mineral menjadi lebih rendah. Kondisi ini dapat memicu berbagai keluhan seperti mudah lelah, pusing, hingga perubahan suasana hati.
Minimnya serat juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti sembelit atau buang air besar yang terlalu cair. Hal ini terjadi karena tubuh tidak mendapatkan cukup bahan makanan padat yang membantu proses pencernaan berjalan normal.
Karena berbagai potensi efek samping tersebut, liquid diet sebaiknya tidak dilakukan tanpa pengawasan dokter. Metode ini juga tidak dianjurkan bagi beberapa kelompok, seperti wanita hamil, ibu menyusui, penderita diabetes yang menggunakan insulin, maupun orang dengan penyakit kronis.
Jika seseorang tetap ingin menjalani liquid diet, konsultasi medis sangat disarankan agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi. Biasanya dokter juga akan menentukan jenis cairan yang boleh dikonsumsi serta durasi diet yang umumnya berlangsung sekitar 5 hingga 14 hari.
Baca juga: Kapan Penderita Hipertensi Perlu Minum Obat? Ini Penjelasan Lengkapnya
Adapun beberapa contoh makanan atau minuman yang biasanya diperbolehkan dalam liquid diet antara lain jus buah atau sayur tanpa ampas, kaldu ayam atau sapi, sayuran dan daging yang dihaluskan lalu disaring, susu, yoghurt, smoothies, milkshake, puding, es krim, selai kacang atau buah yang dihaluskan, hingga minuman cokelat panas.
Meski terlihat praktis dan menjanjikan hasil cepat, para ahli mengingatkan bahwa penurunan berat badan yang sehat tetap membutuhkan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang teratur. Liquid diet sebaiknya dipahami sebagai bagian dari terapi medis, bukan solusi utama untuk menurunkan berat badan secara jangka panjang.