Banner Utama

Ramadan Tidak Serempak: Bagaimana Mengedukasi Anak?

Oleh : M. Ishom El Saha
Opini
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Feb 18, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM - Kabar puasa Ramadan tidak serempak pada tahun ini umumnya sudah diketahui oleh anak-anak. Terutama anak-anak yang tumbuh dalam ruang informasi tanpa batas. Adakalanya mereka mendengar langsung percakapan orang tua, menyimak perdebatan di televisi, bahkan menonton potongan video di media sosial yang menampilkan ragam pendapat awal puasa.

Daya kritis mereka terasah lebih cepat. Pertanyaan pun muncul lugas, semisal “mengapa puasanya tidak mulai bersama? Siapa yang benar?”

Pertanyaan itu wajar. Dalam konteks Indonesia, perbedaan awal Ramadan kerap terkait metode penetapan. Ada yang menggunakan hisab atau perhitungan astronomi, sebagaimana dipraktikkan Muhammadiyah dengan pendekatan wujudul hilal. Ada pula yang mengedepankan rukyat, yakni pengamatan langsung hilal yang kemudian dikukuhkan melalui sidang isbat, sebagaimana menjadi tradisi Nahdlatul Ulama.

Bagi orang dewasa, perbedaan ini dipahami sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam yang kaya. Namun bagi anak, terutama usia sekolah dasar, dunia masih sering dipandang dalam kerangka benar dan salah secara tegas. Ketika melihat tetangga sudah tarawih sementara keluarganya belum, atau sebaliknya, kebingungan dapat muncul.

Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Menjelaskan perbedaan tidak cukup dengan kalimat singkat, “Memang dari dulu begitu.” Anak membutuhkan penjelasan yang masuk akal sesuai tahap perkembangannya. Mereka sudah mampu berpikir logis konkret: memahami bahwa satu persoalan bisa diselesaikan dengan lebih dari satu cara.

Baca juga: Jurnalisme di Persimpangan AI : Antara Kecepatan dan Kebenaran

Orang tua dapat memulai dengan analogi sederhana. Misalnya, menentukan awal bulan seperti menentukan awal lomba. Ada jadwal yang dihitung sebelumnya, tetapi ada pula panitia yang memastikan kondisi di lapangan memungkinkan acara dimulai. Dua pendekatan itu berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu memastikan semuanya berjalan sesuai aturan.

Lebih dari sekadar soal metode, yang perlu ditekankan adalah sikap terhadap perbedaan. Anak perlu mendengar bahwa perbedaan pendapat bukan tanda perpecahan. Dalam sejarah peradaban Islam, perbedaan justru menjadi ruang tumbuhnya pemikiran. Kalimat sederhana seperti, “Kita bisa berbeda dan tetap saling menghormati,” memiliki dampak psikologis yang besar.

Di era digital, tantangannya bertambah. Anak dapat terpapar narasi yang menyudutkan kelompok tertentu. Video pendek yang provokatif mudah tersebar dan sering kali dikemas secara emosional. Pendampingan menjadi kunci. Alih-alih melarang, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi, mengajak mereka menilai apakah cara penyampaian dalam video itu mencerminkan akhlak yang baik.

Jika keluarga mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat, jelaskan bahwa proses itu melibatkan para ahli dan perwakilan berbagai organisasi. Anak belajar bahwa keputusan publik lahir dari musyawarah. Jika keluarga mengikuti keputusan organisasi yang berbeda dari mayoritas lingkungan, bekali anak dengan kepercayaan diri untuk menjelaskan pilihan keluarganya secara santun.

Momen perbedaan awal Ramadan sesungguhnya dapat menjadi laboratorium kecil pendidikan karakter. Anak belajar tentang identitas, tentang konsistensi, sekaligus tentang empati. Mereka memahami bahwa keyakinan dapat dipegang tanpa harus merendahkan pihak lain.

Baca juga: Broken Strings: Alarm Bahaya bagi Perlindungan Anak

Hal yang tak kalah penting, orang tua perlu mengelola emosi diri. Nada sinis atau cemooh terhadap kelompok berbeda mudah ditiru anak. Sebaliknya, sikap tenang dan argumentatif akan membentuk pola pikir yang dewasa. Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi terutama dari bagaimana orang tua bersikap.

Alih-alih menjadikan perbedaan sebagai sumber ketegangan, keluarga dapat mengalihkan fokus pada substansi Ramadan itu sendiri. Kebersamaan saat sahur, solidaritas dan toleransi berpuasa, kekhusyukan salat Tarawih berjamaah, serta kepedulian berbagi. Pengalaman emosional yang hangat akan lebih membekas dibanding perdebatan teknis yang rumit.

Intisarinya, pendidikan Ramadan di dalam keluarga bukan semata soal kapan mulai berpuasa, melainkan bagaimana menumbuhkan jiwa yang lapang. Ketika anak mampu memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan sosial, ia sedang belajar menjadi warga yang matang secara emosional dan spiritual.

Ramadan mungkin tidak selalu datang serempak dalam penanggalan. Namun jika keluarga mampu mengelola perbedaan dengan bijak, nilai yang tumbuh justru serempak: saling menghormati, saling memahami, dan bersama-sama merawat persaudaraan.

Baca juga: Kritik, Komedi, dan Bullying: Pelajaran Kitab Akhlak Pesantren dari Kontroversi Pandji–Gibran

Penulis :  Rektor UIN SMH Banten, M. Ishom El Saha.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: