ORBIT-NEWS.COM, YOGYAKARTA – Peringatan Isra Mi’raj tidak semestinya berhenti sebagai ritual seremonial tahunan. Lebih dari itu, peristiwa agung dalam sejarah Islam tersebut harus dimaknai secara mendalam dan diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan maupun spiritualitas pribadi umat. Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam kegiatan Refleksi Isra Mi’raj 1447 Hijriah yang digelar pada Jumat (16/1/2025).
Menurut Haedar, Isra Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan ketauhidan seorang muslim karena bersifat mukjizat, melampaui nalar manusia pada umumnya.
“Isra Mi’raj adalah peristiwa iman. Di situlah kualitas tauhid, iman, dan takwa seorang muslim diuji,” ujar Haedar.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai Isra Mi’raj semestinya menjadi momentum untuk membangun relasi ketuhanan yang kokoh, baik bagi warga maupun para pemimpin bangsa. Relasi spiritual yang kuat tersebut diyakini mampu melahirkan jiwa yang salih dan menjadi benteng moral dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Kesalehan pribadi, lanjut Haedar, seharusnya menjadi rambu-rambu moral yang mencegah seseorang dari berbagai perilaku tercela, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, tindakan kriminal, ujaran kasar, serta perbuatan tidak pantas lainnya.
Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban
“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita langgar, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Dari relasi dengan Allah itu harus lahir relasi murakabah,” tegasnya.
Relasi murakabah, menurut Haedar, merupakan kesadaran spiritual yang mendalam bahwa setiap manusia senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Jika kesadaran ini hidup dalam diri warga bangsa maupun para pemimpin, maka dorongan untuk melakukan perbuatan buruk akan dapat dikendalikan.
Isra Mi’raj sebagai Cermin Keteladanan Bangsa
Selain aspek spiritual, Haedar juga menyoroti pentingnya Isra Mi’raj sebagai momentum menumbuhkan keteladanan, khususnya di tengah kondisi bangsa yang dinilai mengalami krisis figur teladan, baik di kalangan pemimpin maupun elit agama. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Isra Mi’raj sebagai sarana belajar dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW secara autentik, bukan sekadar simbolik.
“Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai proses belajar terus-menerus untuk menampilkan keteladanan yang otentik,” tuturnya.
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Budi Santoso Buka Pasar Murah Kemendag, 75 UMKM Ramaikan Lapangan Pejambon
Haedar menegaskan, para pemimpin bangsa perlu menjadikan nilai Isra Mi’raj sebagai cermin dalam berkata dan bertindak secara hati-hati, adil, dan beretika. Dengan demikian, masyarakat dapat menaruh kepercayaan dan rasa hormat, serta memiliki figur teladan yang nyata.
Sementara itu, bagi para elit agamawan, Haedar mengingatkan pentingnya keselarasan antara ajaran dan tindakan. Ketidaksesuaian antara nilai luhur agama dengan perilaku justru akan merusak kepercayaan umat dan melemahkan otoritas moral agama itu sendiri.
Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa kegersangan keteladanan di tubuh bangsa harus segera diatasi. Tugas para elit di berbagai level adalah menghadirkan diri sebagai oase moral di tengah dahaga masyarakat akan teladan sejati.
“Keteladanan yang otentik itu bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Jika peran ini dijalankan, kehadiran para tokoh akan menjadi oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” pungkasnya.
Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.