Banner Utama

Menag: NU Adalah Pesantren Raksasa Penjaga Ilmu, Moderasi, dan Masa Depan Indonesia

Nasional
By Ariyani  —  On Jan 31, 2026
Caption Foto : Meteri Agama, Nasaruddin Umar di acara Harlah NU. (Foto ; Dok. Kemenag).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan posisi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kekuatan besar keilmuan dan moderasi beragama di Indonesia. Di usia satu abad, NU dinilai bukan sekadar organisasi kemasyarakatan keagamaan, melainkan sebuah “pesantren raksasa” yang berperan strategis dalam menjaga harmoni kehidupan beragama sekaligus keutuhan bangsa.

Penegasan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menyampaikan Khutbah Syuriah dalam peringatan Hari Lahir 100 Tahun Masehi Nahdlatul Ulama bertema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Menurut Menag, perjalanan NU selama satu abad mencerminkan kematangan organisasi yang dibangun di atas fondasi tradisi pesantren. Tradisi itu tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga menumbuhkan budaya keilmuan yang hidup, kritis, dan terbuka.

“Seratus tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang itulah NU menunjukkan kematangannya. Hakikatnya, Nahdlatul Ulama adalah pesantren besar,” ujar Nasaruddin Umar.

Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban

Ia menjelaskan, kultur pesantren yang menjadi ruh NU sarat dengan dinamika intelektual, termasuk perdebatan antarmazhab seperti Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, hingga Hambali. Perbedaan pandangan tersebut, kata dia, justru menjadi kekuatan karena melatih sikap kritis dan kedewasaan berpikir.

“Diskusinya bisa sangat hangat, bahkan panas. Namun dari situlah lahir tradisi akademik yang kuat dan kedalaman keilmuan yang menjadi ciri khas NU,” jelasnya.

Lebih jauh, Menag menggambarkan NU sebagai keluarga besar dengan dinamika internal yang tinggi, namun tetap mampu menjaga keharmonisan. Bahkan, NU dinilai memiliki karakter inklusif yang memungkinkan siapa pun merasa menjadi bagian dari keluarga besar tersebut.

“NU penuh dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga yang sakinah. Orang luar pun bisa merasa menjadi orang dalam di lingkungan Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.

Menghadapi masa depan, Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa perubahan global berlangsung sangat cepat, bahkan melampaui kesiapan manusia untuk mengantisipasinya. Situasi ini berpotensi memunculkan berbagai guncangan, mulai dari aspek teologis, kultural, politik, ekonomi, hingga perkembangan ilmu pengetahuan.

Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Kemendag Buka Pasar Murah, 75 UMKM Ramaikan Lapangan Pejambon

Dalam konteks itu, ia mendorong NU untuk memperkuat kepemimpinan kolektif dengan menyiapkan figur-figur manajerial yang mampu bekerja secara tim. Menag menambahkan, kepemimpinan ideal adalah perpaduan antara kemampuan memimpin dan mengelola, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam khutbahnya, Menag juga kembali menekankan komitmen NU terhadap prinsip moderasi beragama. Prinsip ini, menurutnya, menjadi kunci dalam merawat keberagaman Indonesia.

“NU tidak pernah menyamakan yang berbeda dan tidak pernah membedakan yang sama. Biarkan yang sama tetap sama, dan yang berbeda tetap berbeda,” tegasnya.

Ia menilai, prinsip tersebut merupakan fondasi kuat dalam menjaga kerukunan, kedamaian, dan persatuan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas perjalanan panjang NU selama satu abad. Ia berharap NU terus menjadi penopang utama kehidupan keagamaan dan kebangsaan di Indonesia.

“Atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama atas perjalanan sejarahnya yang telah mencapai 100 tahun,” pungkasnya.

NU di Tingkat Global

Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyoroti peran NU di tingkat global. Menurut Gus Yahya, posisi NU yang kuat di tengah masyarakat dunia mendorong organisasi tersebut untuk lebih aktif terlibat dalam isu-isu kemanusiaan dan perdamaian internasional.

“NU memiliki posisi yang kuat dalam peta masyarakat dunia. Karena itu, kita didorong untuk lebih berani membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak guna berkontribusi dalam penyelesaian persoalan global dan kemanusiaan dari perspektif nilai-nilai agama,” ujarnya.

Gus Yahya juga menegaskan komitmen NU untuk terus mendukung langkah-langkah pemerintah yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan dan perdamaian bagi masyarakat.

“NU mendukung seluruh agenda dan upaya pemerintah yang ditujukan untuk menghadirkan kebaikan serta kemaslahatan bagi rakyat,” tuturnya.

Memasuki abad kedua, NU meneguhkan perannya bukan hanya sebagai penjaga tradisi keislaman, tetapi juga sebagai aktor penting dalam merawat perdamaian, memperkuat persatuan, dan mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia.

Baca juga: Sidang Isbat 1447 H Digelar Hari Ini, Pemerintah Tegaskan Mekanisme Ilmiah dan Syar’i Penetapan Awal Ramadan

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: