ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah menyiapkan langkah besar dalam pembenahan penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui penerapan digitalisasi secara nasional. Uji coba digitalisasi bansos yang dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada akhir 2025 dinilai berhasil meningkatkan akurasi data penerima serta menekan kesalahan penargetan secara signifikan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, keberhasilan uji coba tersebut menjadi fondasi penting bagi transformasi tata kelola data sosial di Indonesia. Menurutnya, pembenahan sistem bantuan sosial harus dimulai dari keberanian membuka dan memperbaiki data secara transparan.
“Transformasi bangsa itu salah satunya dimulai dari transformasi data. Dan syarat utama transformasi data adalah keterbukaan,” ujar Saifullah Yusuf saat Sosialisasi Piloting Digitalisasi Bansos dan Peran Pemerintah Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Hasil uji coba di Banyuwangi menunjukkan, sebelum dilakukan digitalisasi, tingkat exclusion error pada penerima Program Keluarga Harapan (PKH) mencapai 77,7 persen. Artinya, sebagian besar warga yang sebenarnya layak menerima bantuan justru belum terdata dalam sistem.
Namun setelah dilakukan pemutakhiran menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), tingkat kesalahan penargetan tersebut berhasil ditekan hingga 28,2 persen. Pemerintah bahkan menargetkan exclusion error dapat ditekan hingga di bawah 10 persen seiring penerapan digitalisasi bansos secara menyeluruh.
Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban
“Ini berbasis bukti. Dari 77,7 persen turun ke 28,2 persen dengan DTSEN. Kalau digitalisasi bansos berjalan penuh, targetnya di bawah 10 persen. Ini juga akan sangat membantu BPS dalam pemutakhiran data nasional,” jelas Gus Ipul.
Lebih jauh, digitalisasi bansos menjadi bagian dari transformasi digital pemerintahan melalui pemanfaatan Digital Public Infrastructure (DPI) dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan sekaligus mendukung program prioritas nasional.
Dari sisi sosial, uji coba di Banyuwangi juga membawa dampak positif bagi masyarakat dan petugas lapangan. Warga merasa lebih nyaman dengan mekanisme pendaftaran bantuan yang baru karena dinilai lebih objektif dan minim konflik sosial. Sementara itu, pendamping sosial dan perangkat desa memiliki dasar yang jelas dalam menerima atau menolak pengajuan bantuan, sehingga mengurangi tekanan dan protes dari masyarakat.
Partisipasi Masyarakat
Selain itu, sistem digital memungkinkan masyarakat ikut berperan aktif dalam pemutakhiran data melalui mekanisme sanggah. Kementerian Sosial menyediakan berbagai kanal pengaduan dan pembaruan data, mulai dari aplikasi SIKS-NG, Cek Bansos, ground check lapangan, call center, hingga layanan WhatsApp.
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Budi Santoso Buka Pasar Murah Kemendag, 75 UMKM Ramaikan Lapangan Pejambon
Keunggulan lainnya adalah penerapan autentikasi biometrik yang memastikan data berasal langsung dari penerima manfaat. Pemerintah juga menilai proses ini sekaligus menjadi sarana edukasi publik mengenai pentingnya menjaga data administrasi, termasuk risiko penyalahgunaan identitas seperti peminjaman KTP.
Pada tahun 2026, pemerintah akan memperluas uji coba digitalisasi bansos ke 40 kabupaten/kota dan satu provinsi, yakni Bali. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengajak seluruh pemerintah daerah yang terlibat untuk bekerja secara solid dan kolaboratif.
“Kita kerja bersama, satu padu. Kalau kita bersatu, tidak ada yang tidak bisa kita kerjakan. Digitalisasi bansos ini bagian dari eksekusi program besar Presiden,” kata Luhut.
Ia menambahkan, pelaksanaan piloting akan dimulai pada Februari 2026 dan ditargetkan rampung pada Juli mendatang. Pemerintah berharap hasil uji coba tersebut dapat menjadi model nasional dalam perbaikan sistem bantuan sosial yang lebih adil, transparan, dan tepat sasaran.
Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.