ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Pemerintah Kabupaten Banyumas terus menunjukkan
komitmennya dalam menciptakan ruang publik yang tertib, nyaman, dan ramah bagi
semua. Salah satu langkah strategis yang kini mulai digencarkan adalah penataan
Pasar Wage, pasar terbesar yang berada di jantung Kota Purwokerto.
Penataan ini menjadi penting mengingat aktivitas perdagangan yang meluas
hingga ke Jalan Vihara selama ini kerap menimbulkan kemacetan dan kesan
semrawut. Menjawab keluhan masyarakat tersebut, tim gabungan yang dipimpin
langsung oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Banyumas,
Gatot Eko Purwadi, SE, turun langsung ke lapangan untuk melakukan sosialisasi
kepada para pedagang, Sabtu (24/1/2026).
Gatot menjelaskan, penataan kawasan Pasar Wage bukan semata-mata penertiban,
melainkan upaya menciptakan keseimbangan antara kelancaran lalu lintas,
kenyamanan pedagang, serta kepuasan masyarakat sebagai pengguna jalan dan
pembeli.
“Banyak aduan masyarakat terkait kemacetan di Jalan Vihara. Selain itu,
Bupati Banyumas juga menginginkan Pasar Wage ditata lebih rapi dan
representatif. Karena itu, langkah ini kita lakukan secara bertahap dan
persuasif,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rencana besar tersebut, Pemkab Banyumas juga tengah mengupayakan pembebasan lahan di pintu masuk utama Pasar Wage, tepatnya di Jalan Jenderal Soedirman. Pelebaran akses ini diharapkan mampu meningkatkan visibilitas pasar sekaligus memperlancar arus keluar-masuk pengunjung.
Baca juga: Jalur Semarang–Purwodadi Putus Total, Polisi Terapkan Pengalihan Arus dan Siaga Penuh di Grobogan
Respon Positif Pedagang
Hasil sosialisasi di lapangan menunjukkan respons positif dari para
pedagang. Mayoritas pedagang di sepanjang Jalan Vihara menyatakan kesediaannya
untuk direlokasi kembali ke dalam area pasar, mengingat lapak yang tersedia
dinilai lebih layak dan nyaman karena terlindung dari panas maupun hujan.
Berdasarkan data paguyuban, terdapat 244 pedagang yang beraktivitas di Jalan
Vihara. Saat ini data tersebut masih dalam proses validasi. Sementara itu, lapak
kosong di dalam Pasar Wage tercatat mencapai 276 unit, jumlah yang dinilai
cukup untuk menampung seluruh pedagang.
Baca juga: 532 Warga Brebes Terdampak Tanah Gerak, Pemprov Jateng Percepat Relokasi dan Pembangunan Huntara
“Kami berkeliling dari ujung Jalan Vihara hingga ke pertigaan Jalan MT.
Haryono. Secara umum pedagang tidak menolak. Ada yang meminta waktu, itu wajar
dan tetap kita akomodir. Ini proses penataan, bukan pemaksaan. Bagi pedagang
yang siap pindah sekarang, akan langsung kita fasilitasi,” tambah Gatot.
Gatot menegaskan, bahwa proses penataan Pasar Wage dilakukan secara natural dengan
mengedepankan dialog dan musyawarah. Tujuan utamanya adalah membangun kesamaan
visi, agar pedagang dapat berjualan dengan lebih nyaman, sementara fungsi Jalan
Vihara sebagai jalur lalu lintas tetap optimal.
Setelah tahap sosialisasi rampung, tim gabungan akan melakukan rapat evaluasi
untuk menentukan langkah lanjutan. Nantinya, apabila penataan telah selesai,
pengelolaan Jalan Vihara akan diserahkan kepada Dinas Perhubungan Kabupaten
Banyumas.
Dengan penataan yang dilakukan secara bertahap, kolaboratif, dan mengedepankan kepentingan bersama, Pasar Wage diharapkan mampu bertransformasi menjadi pasar tradisional yang tertib, modern, dan tetap menjadi denyut ekonomi masyarakat Purwokerto.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.