ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Kasus pendaki yang mengalami kondisi darurat di gunung kembali mengingatkan publik pada satu ancaman serius yang sering luput disadari: hipotermia. Kondisi ini kerap menjadi penyebab utama memburuknya kesehatan hingga kematian saat aktivitas di alam terbuka, terutama di wilayah bersuhu rendah dan cuaca ekstrem.
Secara medis, hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius. Padahal, tubuh manusia idealnya berada pada rentang suhu 36,5 hingga 37,5 derajat Celsius agar seluruh organ dapat bekerja optimal. Saat panas tubuh hilang lebih cepat daripada kemampuan tubuh memproduksinya, fungsi vital seperti pernapasan, jantung, dan sistem saraf dapat terganggu secara serius.
Yang membuat hipotermia berbahaya adalah prosesnya yang sering berlangsung perlahan dan tidak selalu disadari oleh penderitanya. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa kehilangan kesadaran sebelum menyadari bahwa tubuhnya berada dalam keadaan darurat.
Gejala hipotermia umumnya berkembang bertahap. Pada tahap awal, tubuh akan berusaha mempertahankan panas dengan cara menggigil hebat, disertai napas cepat, kulit tampak pucat, serta rasa lelah dan bingung ringan. Jika kondisi memburuk, penderita justru dapat berhenti menggigil—sebuah tanda bahaya—dengan gejala seperti bicara tidak jelas, disorientasi, penurunan daya ingat, hingga denyut jantung melambat. Pada tahap paling berat, korban dapat kehilangan kesadaran, bernapas sangat dangkal, nadi sulit terdeteksi, dan tubuh menjadi kaku.
Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat
Kelompok rentan seperti bayi dan lansia memiliki tanda yang berbeda. Pada bayi, hipotermia dapat ditandai dengan kulit terasa sangat dingin, gerakan minimal, serta penolakan untuk menyusu atau makan.
Meski suhu dingin sering dianggap sebagai penyebab utama, berbagai faktor lain turut meningkatkan risiko hipotermia. Pakaian basah akibat hujan, keringat, atau tercebur air dapat mempercepat hilangnya panas tubuh. Kondisi medis tertentu seperti gangguan tiroid, diabetes, dan penyakit saraf juga memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu. Selain itu, konsumsi alkohol, penggunaan obat penenang, kekurangan gizi, serta paparan ruangan ber-AC dalam waktu lama—terutama pada bayi dan lansia—dapat memicu kondisi ini.
Para ahli menegaskan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menekan risiko hipotermia. Mengenakan pakaian berlapis yang tahan angin dan air, menjaga tubuh tetap kering, serta memastikan asupan makanan dan cairan yang cukup menjadi langkah dasar yang tidak boleh diabaikan. Menghindari konsumsi alkohol saat berada di lingkungan dingin juga sangat dianjurkan karena dapat mempercepat kehilangan panas tubuh.
Selain menjaga diri sendiri, kewaspadaan terhadap orang di sekitar juga penting. Bayi, lansia, dan individu dengan penyakit tertentu membutuhkan perhatian ekstra agar tetap terlindungi dari suhu ekstrem.
Hipotermia bukan sekadar rasa kedinginan biasa. Tanpa penanganan cepat dan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwa. Memahami risikonya sejak dini menjadi bekal penting, terutama bagi siapa pun yang beraktivitas di alam terbuka atau lingkungan bersuhu rendah.
Baca juga: Kenali Zona Detak Jantung Saat Olahraga, Kunci Latihan Aman dan Efektif