ORBIT-NEWS.COM,PURWOKERTO – Pendopo Sipanji, Purwokerto, Senin (26/1/2026), menjadi ruang belajar langsung tata kelola pemerintahan bagi puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN). Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono secara resmi membuka kegiatan studi kelembagaan dan praktikum lapangan yang diikuti 61 mahasiswa STIPAN, mayoritas berasal dari Papua.
Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia Papua, seiring kebutuhan aparatur pemerintahan yang terus meningkat pascapemekaran wilayah menjadi enam provinsi. Para mahasiswa akan mengikuti rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan orientasi lapangan dengan fokus pada praktik pemerintahan desa.
Ketua STIPAN, Dr. Sumarsono, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman konkret tentang sistem administrasi pemerintahan desa, mulai dari perencanaan, pelayanan publik, hingga pengelolaan potensi lokal. Bekal tersebut diharapkan dapat diterapkan saat mereka kembali ke daerah asal.
“Kebutuhan ASN di Papua sangat besar. Sesuai amanat Otonomi Khusus, 80 persen formasi ASN harus diisi oleh Orang Asli Papua. Namun, saat ini masih banyak posisi strategis yang belum terisi karena keterbatasan SDM,” kata Sumarsono.
Ia menambahkan, pendidikan dan pengalaman lapangan menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui program akselerasi ini, mahasiswa diharapkan siap mengisi jabatan pemerintahan, mulai dari tingkat kelurahan hingga jabatan struktural di pemerintahan daerah.
Baca juga: ParagonCorp Perluas Akses Pengembangan Kepemimpinan Mahasiswa Lewat Novo Club Batch 4
Kabupaten Banyumas dipilih sebagai lokasi praktikum karena dinilai memiliki praktik pemerintahan desa yang relatif maju dan berprestasi di tingkat nasional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah sistem pengelolaan lingkungan dan sampah yang dinilai inovatif dan berkelanjutan. Selain itu, Banyumas dianggap representatif untuk memperkenalkan model pemerintahan desa yang berbeda dengan sistem pemerintahan kampung di Papua.
“Di Papua, struktur pemerintahan berada pada level kampung di bawah distrik. Dengan belajar di Banyumas, mahasiswa bisa membandingkan langsung bagaimana sistem pemerintahan desa berjalan dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Sumarsono.
Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa akan ditempatkan di Kecamatan Baturraden dan disebar ke lima desa, yakni Kemutug Lor, Karangmangu, Karangtengah, Kemutug Kidul, dan Rempoah. Di desa-desa tersebut, mereka akan terlibat langsung dalam aktivitas pemerintahan dan pelayanan masyarakat.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono dalam sambutannya menekankan pentingnya pengalaman lapangan sebagai pelengkap teori akademik. Menurutnya, dunia pemerintahan menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi karena dinamika sosial di masyarakat sering kali tidak sepenuhnya sejalan dengan teori yang dipelajari di ruang kuliah.
“Ilmu di kampus adalah fondasi, tetapi di lapangan sering kali hanya sebagian yang bisa diterapkan. Sisanya adalah kemampuan membaca situasi, berkomunikasi dengan masyarakat, dan menjaga integritas,” ujar Sadewo.
Ia juga mengingatkan bahwa aparatur pemerintah tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga pelayan dan penggerak pembangunan. Oleh karena itu, selain kecakapan akademik, dibutuhkan karakter kuat, etika kepemimpinan, serta semangat kebangsaan.
Pemerintah Kabupaten Banyumas, lanjut Sadewo, telah menginstruksikan jajaran kecamatan dan desa di wilayah Baturraden untuk memberikan pendampingan maksimal kepada para mahasiswa. Sinergi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan diharapkan mampu melahirkan gagasan dan inovasi yang aplikatif.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada laporan akademik semata. Semoga pengalaman di Banyumas dapat menjadi bekal berharga dan melahirkan kontribusi nyata bagi pembangunan di daerah asal masing-masing,” tutupnya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.