Banner Utama

Kaligrafi sebagai Terapi Jiwa: Perjalanan Eka Dewi Maesaroh Menyatukan Seni, Spiritualitas, dan Dakwah

Banyumas Raya Pendidikan
By Hermiana  —  On Jan 27, 2026
Caption Foto : Eka Dewi Maesaroh, mahasiswi UIN Saizu Purwokerto yang hobi membuat kaligrafi dan sudah meraih banyak prestasi. (Foto : Dok. UIN Saizu Purwokerto).

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO — Di tengah arus kehidupan kampus yang dinamis, seni kerap menjadi ruang jeda untuk menenangkan pikiran dan menata batin. Bagi Eka Dewi Maesaroh, mahasiswi semester III Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, seni kaligrafi bukan sekadar hobi, melainkan jalan refleksi diri sekaligus sarana dakwah yang penuh makna.

Mahasiswi asal Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas ini telah mengenal kaligrafi sejak menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah. Ketertarikannya bermula ketika ia aktif mengikuti kegiatan sanggar kaligrafi. Dari sana, Eka menemukan bahwa seni huruf Arab bukan hanya soal teknik dan estetika, tetapi juga proses spiritual yang menuntut kesabaran, ketelitian, serta kejujuran batin.

“Dalam kaligrafi, saya belajar untuk tidak tergesa-gesa. Setiap garis dan titik mengajarkan ketenangan,” tutur Eka. Baginya, proses menggambar dan menata huruf menjadi media kontemplasi yang membantu memahami diri sekaligus memperkuat kedekatan dengan nilai-nilai keislaman.

Seiring berjalannya waktu, kaligrafi berkembang menjadi ruang terapi psikologis yang selaras dengan bidang studinya. Seni ini, menurut Eka, mampu menghadirkan ketenangan jiwa, mengurangi kegelisahan, dan menumbuhkan kesadaran spiritual, nilai-nilai yang sejalan dengan pendekatan tasawuf dan psikoterapi Islam.

Di tengah kesibukan akademik, Eka tetap konsisten mengasah kemampuan seninya. Ia meyakini bahwa kaligrafi memiliki kekuatan komunikasi yang halus namun mendalam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dituangkan dalam bentuk visual dapat menjadi pesan dakwah yang mudah diterima lintas kalangan, tanpa harus melalui narasi verbal yang panjang.

Baca juga: ParagonCorp Perluas Akses Pengembangan Kepemimpinan Mahasiswa Lewat Novo Club Batch 4

Komitmennya terhadap pendidikan dan pengabdian juga tercermin dari aktivitas organisasi. Saat ini, Eka dipercaya menjadi Pengurus Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Fatkhul Mu’in Purwokerto periode 2025–2026. Sebelumnya, ia aktif sebagai anggota Sanggar Kaligrafi Ad-Dinia Banjarnegara selama 2022–2024. Lingkungan pesantren dan sanggar seni menjadi ruang penting dalam membentuk kepekaan intelektual, emosional, dan spiritualnya.

Perjalanan pendidikan Eka dimulai dari MI Ma’arif NU 2 Panusupan, dilanjutkan ke SMP Unggulan NU Mojoagung, kemudian MA Al-Fatah Banjarnegara. Sejak 2024, ia resmi menempuh pendidikan tinggi di UIN Saizu dengan tekad mengembangkan potensi diri secara utuh, mengintegrasikan ilmu, seni, dan nilai-nilai Islam.

Sejumlah prestasi turut menandai konsistensinya dalam berkarya. Eka berhasil meraih Juara II Lomba Kaligrafi Dekorasi Putri KINMU 2025, Juara III Lomba Kaligrafi Dekorasi Putri INISCOM 2025, serta Juara III Lomba Kaligrafi Kontemporer Semarak Bahasa Arab tingkat Barlingmascakeb tahun 2023.

“Melalui kaligrafi, saya ingin menyampaikan pesan Islam dengan cara yang lebih halus, menenangkan, dan bisa diterima oleh siapa saja,” ujar Eka Dewi Maesaroh.

Meski demikian, Eka memandang prestasi bukan sebagai tujuan akhir. “Setiap capaian adalah amanah untuk terus belajar dan memberi manfaat,” ujarnya. Prinsip hidup yang ia pegang, sedikit perubahan lebih baik daripada tidak berubah sama sekali, menjadi pendorong untuk terus melangkah, meski melalui proses yang sunyi.

Baca juga: Lansia di Sruweng Tewas Tersengat Listrik Saat Cari Rumput, Polisi Imbau Warga Waspada Instalasi Berbahaya

Melalui karya-karya kaligrafinya, Eka berharap dapat menghadirkan wajah Islam yang damai, indah, dan menenangkan. Ia ingin seni menjadi jembatan yang menghubungkan nilai spiritual dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih mencintai Al-Qur’an, tidak hanya dibaca, tetapi juga direnungkan dan dihayati maknanya.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: